Sunday, May 16, 2021

Menikmati Indah Pelangi Usaha Ultra Mikro Pasar Kreatif Metro

Most Read

Jika hujan adalah kesulitan dan matahari adalah kebahagian maka kita membutuhkan keduanya untuk menikmati indahnya pelangi.

Kutipan ini tepat menggambarkan kebangkitan usaha ultramikro di Provinsi Lampung, yang justeru perlahan tumbuh di tengah badai pandemi coronavirus disease (covid-19) menerpa belahan penjuru dunia.

Mayoritas sektor usaha terpukul, pandemi telah mengubah tatanan dunia usaha. Namun, di tangan-tangan kreatif, pelaku usaha Ultra Mikro di Provinsi Lampung justru tumbuh.

Potensi besar ini adalah peluang bagi PT Pegadaian (Persero) untuk membentuk dan mengembangkan ekosistem ultramikro (UMi).

Sebagai upaya untuk menguatkan bisnis pelaku usaha Umi dan UMKM agar naik kelas dan tentunya tumbuh besar.

Bagaimana potensi itu benar benar nyata? Mari kita ikuti liputanya.

Hendarto Setiawan – Radar Lampung TV

METRO : Tangan renta ini, adalah tangan kaya pengalaman hidup. Melintasi ragam rezim pemerintahan dari Presiden Soeharto hingga Joko Widodo.

Terampil nan cekatan, saat melayani para pembeli jajanan tradisional di zaman milenial, di salah satu lapak Pasar Kreatif Tejo Agung, atau Pak Tejo, Kota Metro pada Ahad 21 Maret 2021.

Mengemas cenil kombinasi warna merah putih dalam wadah mika, menaburinya dengan cairan gula aren sebagai pemanis dan toping khas berupa parutan kelapa pilihan, muda tidak tuapun tidak..

Tangan perkasa inilah yang melewati masa masa sulit krisis ekonomi yang telah mewarisi resep turun menurun dari sang ibu.

Tangan dengan guratan urat yang nyata berbalut tipis kulit warna cokelat gelap ini adalah milik Sutakinah.

TANGGUH : Sutakinah (pakaian hitam) salah satu pedagang jajanan tradisional sedang melayani pesanan pembeli di Pasar Kreatif Pak Tejo.

Perempuan usia 65 tahun ini adalah salah satu pelaku usaha ultramikro di Pasar Kreatif Tejo Agung, Kota Metro, Provinsi Lampung.

 

Mengenakan balutan kebaya dan hijab, tetap mengedepankan protokol kesehatan.

Mengenakan sarung tangan, face shield atau pelindung wajah dan tentunya meminta setiap pembeli yang datang tetap menjaga jarak.

Saban Hari Sabtu dan Ahad, selain cenil, jajanan tradisionalnya seperti klepon dan tapai selalu sold out.

Makanan tradisional ini masih cocok di era milineal. Menjadi salah satu primadona pelanggan yang tak hanya datang dari kelurahan itu saja.

”Mulai dagang sejak pukul 6 pagi. Biasanya jam 9 sudah habis,” kata Sutakinah mengawali perkenalan seraya mengembangkan senyum.

Pasar Kreatif Bak Jamur Di Musim Hujan Dengan Badai Pandemi

Berjalan memasuki kawasan Pak Tejo di RT 06, RW 02 Kecamatan Metro Timur, di pertengahan Maret 2021, ini seraya menapaki sebuah lorong kebahagian, penuh semangat dan optimisme.

Tidak ada tanda tanda jika ekonomi bangsa ini sedang terpuruk. Warna warni payung dengan corak pelangi sebagai pertanda penggagas dan penghuninya juga berhati cerah.

Senyum ramah khas penjaja aneka kuliner ini adalah pembedanya.

Konsep Pasar Kreatif ini muncul dari gerakan gotong royong dan pemberdayaan warga, membuat sebuah pasar dengan sajian berbagai olahan kreatif.

Kombinasi sajian kuliner dan nonkuliner. Termasuk desain tata ruang yang instragramable atau kekinian.

Selain Pasar Kreatif Tejo Agung. Di belahan Kota Metro lainnya juga muncul sentra sentra ekosistem usaha Ultra Mikro.

Ada Pasar Yosomulyo Pelangi disingkat menjadi Payungi di Kelurahan Yosomulyo.

Kemudian ada Jamur Sawah atau kepanjangan dari Jajanan Murah pinggir Sawah, di Kelurahan Mulyojati.

DAYA TARIK : Konsep pemberdayaan usaha Ultra Mikro (UMi) yang sangat kreatif mengikuti kondisi kekinian.

Seluruh Pasar Kreatif di Kota Metro ini benar benar menyuguhkan keunggulan kreatifitas para penggagasnya.

Untuk Jamur Sawah adalah Pasar Kreatif yang mengambil view kawasan persawahan yang membentang di area Rukun Warga (RW) 01.

Realisasinya adalah berangkat dari big dream seorang tokoh perempuan kampung tersebut.

Suwarni namanya. Dia adalah guru sekaligus Kepala SD Negeri 4 Metro Timur. Nyaris setiap hari, saat hendak beraktivitas selalu melintasi berhektar hektar yang membentang.

Sementara mayoritas warga memiliki profesi sebagai petani, dengan masa panen dua kali dalam satu tahun.

Saat pandemi Covid-19, menyebabkan ekonomi keluarga semakin sulit dikarenan lama menanti panen dan terlalu banyak mager atau malas gerak.

”Siapa sih yang tidak tertarik, sarapan enak, harga murah, dan makanya di tengah tengah suasana ndeso yakni persawahan yang indah,” ujar Suwarni.

Omset Terus Tumbuh Positif

Gayung bersambut. Sejumlah tokoh masyarakat dan pamong kompak mendukung gagasan ini.

Terbentur permodalan tak membuat mereka menyerah. Tim kreatif Jamur Sawah memanfaatkan uang kas masjid setempat sebagai modal utama untuk dipinjamkan kepada calon pedagang.

Setiap pedagang mendapat bantuan berupa perangkat berupa payung pelangi, topi caping, dan celemek, senilai Rp250ribu.

Hebatnya, Pasar Jamur Sawah ini diresmikan langsung pada 6 Maret lalu, oleh dr. Wahdi Siradjuddin, Wali Kota Metro yang baru saja dilantik.

Di usia yang terbilang sangat muda. Ekosistem Usaha Mikro ini sudah menunjukkan potensi cerah.

SERU : Pengunjung menikmati sarapan pagi di Pasar Jamur Sawah. Nuansa Ndeso yang jarang ditemui masyarakat perkotaan.

Dari data omset penjualan atau nilai transaksi yang dicatat setiap akhir pasaran menunjukkan grafik terus naik.

”Setiap hari Sabtu, omsetnya mencapai 15 juta rupiah. Sedangkan kalau hari Ahad  bisa lebih tinggi lagi,” kata Ali Wardana, Koordinator Pasar Jamur Sawah yang saat itu didampingi Ketua RW 01 Surono.

Pelaku usaha Jamur Sawah masuk dalam golongan ultramikro yang tidak bankable. Mereka hanya memanfaatkan permodalan seadanya.

Seperti diakui Vika Rancasasi. Dia adalah pelaku usaha UMi mewakili generasi milenial.

Konsep dagangannya kekinian khas Angkringan Jogja. Dengan menu utama nasi kucing, dan nasi bakar. Menu lainnya adalah jenis kuliner sate satean, sebagai pendamping makan nasi.

Perempuan 22 tahun ini sangat tertarik dengan bergabung dalam ekosistem pasar kreatif.

Untuk permodalan dia mendapatkan bantuan dari orang tua. Hasilnyapun sangaat menggiurkan.

”Lumayan hasilnya. Apalagi kalau ada bantuan permodalan besar. Tentu jualanya bisa lebih besar dan banyaklah pembelinya,” tandasnya seraya menahan asap saat mengipasi sate satean pesanan pengunjung.

 

Ultra Mikro Yang Memberdayakan

Kisah sukses nasabah PT Pegadaian dari kelompok UMi juga sangat beragam. Seperti cerita Amila. Salah satu pedagang kuliner di pasar kreatif.

Sedari orang tuanya memiliki hubungan erat dengan PT Pegadaian Metro. Kini hubungan itu berlanjut ke dirinya.

Dia mengandalkan permodalan ultramikro dari BUMN yang genap berusia 120 tahun, pada 1 April 2021 lalu

Dengan barang jaminan berupa mas kawin pernikahan. Didapatilah modal awal Rp2 juta.

Mengawali usaha aneka rempeyek. Kini bisnis tersebut merambat naik. Dengan banyak varian produk dan kemasan yang mengikuti perkembangan tren kekinian.

KISAH SUKSES : Mengawali usaha dengan nominal modal yang sangat kecil dibutuhkan keahlian manajemen dan pemasaran, untuk bisa bertahan dan berkembang.

”Selain rempeyek kacang, kini sudah ada jenis rempeyek teri, rebon, dan juga ini daun bayam,” ujarnya.

Untuk menambah daya tarik pembeli. Kemasan dan label didesain semenarik mungkin. Penjualan juga tak hanya mengandalkan jurus off line  atau tatap muka.

Ibu muda dengan satu anak ini memanfaatkan marketplace di sejumlah media sosial seperti facebook, instagram, dan grup pertemanan WA.

”Harus rajin upload foto produk. Kan rezeki bisa datang dari mana saja,” ungkapnya.

Usahanya semakin pesat. Cicilan atau angsuran tak pernah telat. Perempuan muda generasi milenial ini pun kembali didaulat Pegadaian dengan tawaran pinjaman yang semakin besar.

Mengubah Tantangan Jadi Peluang

Dampak besar dari pandemi Covid-19 di sektor ekonomi juga dirasakan oleh PT Pegadaian Kota Metro.

Sepanjang tahun 2020, adalah masa masa sulit. Transaksi aneka jenis produk Pegadaian dirasakan menurun.

LAYANAN PRIMA : Tenaga pemasaran PT Pegadaian (Persero) tengah memberikan layanan kepada nasabah. Memasuki triwulan kedua, transaksi di Pegadaian mulai menunjukan tren naik.

Tapi sejak awal tahun 2021, ada semacam cuaca cerah kenormalan usaha yakni bergeraknya nilai transaksi.

”Di masa sulit (pandemic-red). Kami gencarkan sosialisasi ke pelaku usaha di pasar pasar dan door to door,’ ujar Reno Supriyadi, Bagian Survei Pegadaian Metro kepada reporter Radar Lampung Tv.

Munculnya ekosistem usaha Ultra Mikro berbalut ragam komunitas pasar kreatif, seperti PakTejo, Payungi danJamur Sawah merupakan tantangan bagi ujung tombak tenaga pemasaran, agen dan atau channel.

” Dua pekan lalu, kami sudah sosialisasi kepada pedagang. Hasilnya sudah mulai terlihat. Ini cara kami mengubah tantangan menjadi peluang,” tandasnya.

Vice President Deputi Area PT Pegadaian Tun Imanudin di Bandar Lampung memaparkan potensi atau peluang usaha Ultra Mikro di Provinsi Lampung sangatlah besar.

Dengan basis pertanian dan sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Potensi UMi dan UMKM menunjukkan grafik meningkat.

Sudah teruji jika sektor ini mampu bertahan di masa masa sulit ekonomi.

”Potensinya sangat luar biasa. Kami yakin bisa menjangkau lebih luas potensi itu,” jelasnya.

SIAP SINERGI : Tun Imanuddin, Vice President Deputy Area Sumsel Babel PT Pegadaian (Persero) memastikan siap menopang percepatan pembentukan ekosistem Ultra Mikro di Provinsi Lampung.

Semangat dan rasa optimisme yang dimiliki pria asal Palembang Sumatera Selatan ini sangat beralasan.

Selain memiliki tenaga pemasaran tetap untuk sosialisasi produk dan mencari nasabah. Pegadaian memiliki agen agen atau chanel yang bertugas di daerah, yang belum ada kantor Pegadaian.

Kebijakan Presiden Republiki Indonesia Joko Widodo mendorong sinergi program membentuk dan memajukan ekosistem ultramikro melalui holding UMi, antara PT Pegadaian, BRI dan Permodalan Nasional Madani (PNM) sangatlah tepat.

Pihaknya yakin sinergi ini mampu merengkuh mayoritas pelaku usaha mikro yang belum terlayani secara maksimal oleh lembaga keuangan formal.

Apalagi kedepan ada konsep co location. Nantinya, Pegadaian bisa memiliki kesempatan membuat outlet di kantor kantor BRI

”Jadi untuk daerah yang tidak ada Pegadaian di Kabupaten Mesuji, Rawajitu Kabupaten Tulang Bawang dan Krui, Kabupaten Pesisir Barat bisa terjangkau,” katanya optimis.

Skema penguatan bisnis pelaku usaha UMI merupakan konsep program tahap lanjutan dari program bantuan sosial menjadi kemandirian usaha.

Dengan menyasar usaha mikro berada di lapisan terbawah, yang belum bisa difasilitasi perbankan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR).

UMi memberikan fasilitas pembiayaan maksimal Rp10 juta per nasabah dan disalurkan oleh Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB).

Komitmen dan konsistensi ini sudah direalisasikan oleh PT Pegadaian (Persero) dan akan semakin dikukuhkan melalui holding ultra mikro.

Nah, setelah badai pandemi Covid-19 dan kelesuan ekonomi. Kini hadirlah sebuah harapan baru. Melalui aksi bersama nan nyata

Upaya keras dan serius dari Pemerintah Republik Indonesia untuk mengajak naik kelas pelaku usaha UMi dan UMKM.

Jadi, Jika kita percaya ada pelangi setelah hujan dan bias matahari. Seharusnya, kita percaya ada kebahagian setelah kesabaran.  (*)

 

berita menarik lainnya

2 COMMENTS

  1. Denyut nadi perekeonomian, penopang tiang negara. Pelestarian keariban lokal di tengah moderinisasj. Dimana sebuah Negara seWajibnya hadir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

UNTUK ANDA

BERITA TERKINI

Pelaku Curanmor Diamuk Massa

Radartvnews.com- Geram dengan aksi pencurian sepeda motor warga jalan basuki rahmat sumur putri, Teluk Betung Selatan, Bandar Lampung, Sabtu siang kompak menghakimi pelaku pencurian...

berita terkait lainnya