Scroll untuk membaca artikel
Nasional

Jangan Bangga Dulu Bisa Multitasking, Kebiasaan Ini Ternyata Bisa Mengganggu Fokus

×

Jangan Bangga Dulu Bisa Multitasking, Kebiasaan Ini Ternyata Bisa Mengganggu Fokus

Share this article


Jangan Bangga Dulu Bisa Multitasking, Kebiasaan Ini Ternyata Bisa Mengganggu Fokus




ilustrasi seseorang yang multitasking–pinterest

RADARTVNEWS.COM — Membalas pesan sambil mengerjakan tugas, membuka media sosial di sela-sela pekerjaan, hingga menonton video saat makan menjadi kebiasaan yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. 

Melakukan beberapa aktivitas sekaligus kerap dianggap sebagai cara untuk menghemat waktu dan meningkatkan produktivitas. Namun, kebiasaan ini justru bisa membuat seseorang lebih sulit berkonsentrasi.

Multitasking merupakan istilah untuk menggambarkan aktivitas mengerjakan beberapa tugas dalam waktu bersamaan. Meski terkesan efisien, otak manusia memiliki keterbatasan dalam menangani sejumlah aktivitas yang sama-sama membutuhkan perhatian.

Dalam praktiknya, seseorang sering kali tidak benar-benar mengerjakan beberapa tugas yang membutuhkan konsentrasi secara bersamaan. Perhatian justru berpindah dengan cepat dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya. Proses ini dikenal sebagai task switching.

Baca Juga :  Kementerian PU Usulkan Penanganan Awal Jalur Lintas Utara Flores melalui Skema IJD

Perpindahan fokus tersebut membutuhkan penyesuaian kembali terhadap tugas yang sedang dikerjakan. Ketika seseorang berulang kali beralih dari pekerjaan ke notifikasi ponsel, misalnya, ia perlu mengembalikan perhatiannya pada pekerjaan utama setiap kali selesai memeriksa pesan.

Kondisi ini dapat membuat pekerjaan membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan ketika dikerjakan secara berurutan. Risiko kesalahan juga meningkat karena perhatian tidak sepenuhnya tertuju pada satu tugas.

Dampak Multitasking tidak hanya berkaitan dengan produktivitas. Kebiasaan berpindah fokus secara terus-menerus juga dapat meningkatkan beban mental dan membuat seseorang lebih cepat merasa lelah. Ketika beberapa pekerjaan harus diselesaikan dalam waktu berdekatan, seseorang bisa merasa kewalahan meskipun belum semua tugas berhasil dituntaskan.

Baca Juga :  Survei: 75 Persen Gen Z Alokasikan Penghasilan Utama untuk Makanan

Selain itu, perhatian yang terpecah dapat membuat informasi penting terlewat. Misalnya, seseorang yang belajar sambil terus memeriksa media sosial berisiko kesulitan memahami materi secara menyeluruh karena fokusnya berulang kali teralihkan.

Meski demikian, tidak semua aktivitas yang dilakukan bersamaan memiliki dampak yang sama. Kegiatan sederhana yang sudah menjadi kebiasaan otomatis, seperti berjalan sambil mendengarkan musik, berbeda dengan dua pekerjaan yang sama-sama menuntut konsentrasi tinggi. Dampaknya bergantung pada jenis aktivitas dan tingkat perhatian yang dibutuhkan.

Untuk mengurangi gangguan konsentrasi, seseorang dapat mulai dengan menentukan satu pekerjaan utama yang perlu diselesaikan terlebih dahulu. Notifikasi yang tidak mendesak juga bisa dinonaktifkan sementara agar perhatian tidak terus-menerus teralihkan.

Baca Juga :  Tekan Risiko Kecelakaan Fatal, BTB Siagakan 39 Crash Cushion di Tol Bakauheni–Terbanggi Besar

Mengelompokkan pekerjaan sejenis, seperti membalas pesan pada waktu tertentu, juga dapat membantu mengurangi perpindahan fokus. Selain itu, memberikan jeda singkat setelah menyelesaikan satu tugas dapat membantu seseorang mengatur kembali perhatian sebelum melanjutkan pekerjaan berikutnya.

Multitasking memang terkadang tidak dapat dihindari, terutama ketika seseorang menghadapi berbagai tanggung jawab sekaligus. Namun, mengerjakan banyak hal dalam waktu bersamaan tidak selalu berarti bekerja lebih efektif. Dalam sejumlah situasi, menyelesaikan satu tugas dengan fokus penuh justru dapat membantu pekerjaan berjalan lebih efisien dan menghasilkan kualitas yang lebih baik.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

halodoc



Source link