Scroll untuk membaca artikel
Wisata Lampung

Tren “Stop the Wedding” Viral di TikTok, Ini Hal yang Perlu Diperhatikan dan Dibicarakan Sebelum Menikah

×

Tren “Stop the Wedding” Viral di TikTok, Ini Hal yang Perlu Diperhatikan dan Dibicarakan Sebelum Menikah

Share this article


Tren




ernikahan intim atau pernikahan dengan jumlah undangan yang tidak terlalu banyak semakin populer di kalangan Generasi Z–ilustrasi foto : magnific

RADARTVNEWS.COM – Frasa “stop the wedding” belakangan memenuhi linimasa media sosial. Lagu “Stop the Wedding!” dari musisi Amerika Serikat, Ashe, dipakai pengguna TikTok untuk menyuarakan kewaspadaan sebelum melangkah ke pernikahan. Di balik nada yang menghentak, tren ini memperlihatkan banyak hal yang perlu diperhatikan dan dibicarakan pasangan sebelum menikah.

Lagu ini dirilis pada 7 Agustus 2026 dan disebut terinspirasi dari pernikahan pertama Ashe yang gagal. Liriknya bercerita tentang seseorang yang menyadari tanda bahaya menjelang pernikahan. Di TikTok Indonesia, lagu ini dipakai sebagai sound untuk konten dukungan sesama perempuan yang membahas hubungan tidak sehat.

Baca Juga :  H. Umran Harun Kembali Pimpin HKSL Lampung Siap Teguhkan Persatuan dan Pelestarian Budaya

ThePhrase.id mencatat bahwa frasa itu tidak selalu berarti benar-benar menghentikan pernikahan. Tren ini lebih berfungsi sebagai pengingat untuk berhenti sejenak dan mengevaluasi hubungan sebelum menuju jenjang permanen.

Dokter spesialis kejiwaan dr Lahargo, dalam pemberitaan detikHealth, menyebut sejumlah perilaku yang perlu diwaspadai sebelum menikah. Di antaranya ketidakmatangan emosi, kecenderungan mengontrol pasangan mulai dari pakaian, pertemanan, pekerjaan, hingga membatasi hubungan dengan keluarga, serta kurangnya empati, seperti meremehkan perasaan atau tidak peduli saat pasangan kesulitan. Hubungan yang sehat memberi ruang bagi kedua pihak menjadi diri sendiri, dan perbedaan pendapat bisa dibicarakan tanpa ancaman atau tekanan.

BACA JUGA:Viral Mahar Fantastis Pernikahan di Pandeglang, Disebut Capai Rp1,5 Miliar hingga Kebun Sawit

Baca Juga :  Asap Karhutla Mengancam Sultra, BMKG Minta Warga Waspadai Kualitas Udara

Bincang Perempuan menambahkan contoh lain yang ramai dibahas warganet, seperti pasangan yang membatasi ruang gerak, tidak tahu informasi dasar tentang diri pasangannya, berulang kali meminta maaf tetapi mengulangi kesalahan yang sama, serta kebiasaan meremehkan perasaan. Sebagian warganet juga menilai kesamaan nilai dasar, termasuk cara memandang kesetaraan, layak dipertimbangkan.

Menurut ulasan Konde.co yang dikutip Info Bandung Barat, sebelum menikah ada banyak hal krusial yang perlu dibicarakan terbuka dan jujur. Daftarnya meliputi pembagian tugas domestik, pengasuhan anak, pengelolaan keuangan bersama, dukungan terhadap kelanjutan karier, batasan hubungan dengan keluarga besar, hingga cara berkomunikasi saat konflik. Pernikahan yang ideal disebut sebagai ruang tumbuh bersama, bukan titik di mana seseorang harus berhenti menjadi dirinya sendiri.

Radar Malioboro mencatat tren ini juga membuka ruang membicarakan tekanan sosial yang menyertai keputusan mengakhiri hubungan, seperti takut mengecewakan keluarga atau dianggap gagal. Persiapan yang sudah matang atau hubungan yang lama bukan alasan untuk tetap melanjutkan hubungan yang menunjukkan tanda tidak sehat. Namun, perlu dicatat bahwa tidak semua perbedaan adalah tanda bahaya. Perbedaan kebiasaan yang bisa dikompromikan berbeda dengan pola perilaku yang merugikan. Konseling pranikah dapat membantu pasangan menilai kesiapan secara lebih objektif.

Baca Juga :  Gaji PNS Bakal Dibayar Lewat Koperasi? Mekanisme dan Kepastian Pelaksanaan Masih Ditunggu

Bila hubungan sudah disertai kekerasan atau ancaman, jangan menunggu hari pernikahan. Layanan pengaduan seperti SAPA 129 milik Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dapat menjadi rujukan awal.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

idn times



Source link