Rabu 21-10-2026,19:38 WIB
Reporter:
MG – Puja Yana|
Editor:
Jefri Ardi

uang indonesia dan dolar-ilustrasi-Magnific
RADARTVNEWS.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi melemah pada perdagangan Rabu (21/10/2026), meskipun dibuka stagnan di level Rp17.992 per dolar AS. Pelaku pasar cenderung bersikap wait and see menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang dijadwalkan berlangsung siang ini.
Berdasarkan data pasar, rupiah dibuka tanpa perubahan atau 0,00 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Namun, ketidakpastian mengenai arah kebijakan suku bunga BI diperkirakan menjadi faktor yang menekan pergerakan mata uang Indonesia sepanjang hari.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menilai sentimen domestik menjadi penentu utama pergerakan rupiah pada perdagangan kali ini.
“Rupiah hari ini diperkirakan melemah dipengaruhi oleh domestik antisipasi hasil keputusan RDG BI siang nanti,” ujar Rully di Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Pasar Menanti Keputusan Suku Bunga BI
Pelaku pasar mencermati dua kemungkinan keputusan BI, yakni mempertahankan suku bunga acuan pada level saat ini atau menaikkannya sebesar 25 basis poin hingga mencapai 6 persen.
Rully memperkirakan BI kemungkinan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75 persen. Kebijakan tersebut dinilai dapat membantu menjaga stabilitas daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Meski demikian, peluang kenaikan suku bunga juga menjadi perhatian pasar. Menurut Rully, BI dapat mempertimbangkan langkah tersebut untuk mengantisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), pada 28 Oktober mendatang.
Jika The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 4,25 persen, kebijakan tersebut berpotensi memengaruhi arus modal dan pergerakan nilai tukar di negara lain, termasuk Indonesia.
Harga Minyak dan Obligasi AS Jadi Perhatian
Selain keputusan RDG BI, pergerakan rupiah juga dipengaruhi kondisi pasar global. Rully menyoroti harga minyak dunia dan kenaikan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS sebagai faktor yang turut memengaruhi sentimen investor.
Tingginya harga minyak berpotensi memperkuat ekspektasi inflasi global. Kondisi tersebut dapat mendorong kenaikan yield obligasi AS dan memengaruhi pergerakan mata uang di kawasan.
Berdasarkan laporan yang dikutip dari Anadolu, harga minyak mentah Brent terkoreksi sekitar 3 persen pada perdagangan Selasa setelah sempat mendekati level tertinggi harian US$112 per barel.
Perubahan harga komoditas dan imbal hasil obligasi tersebut menjadi salah satu faktor eksternal yang diperhatikan pelaku pasar dalam menentukan keputusan investasi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
mediaindonesia.com












