Kamis 22-10-2026,17:49 WIB
Reporter:
Syamsudin|
Editor:
Jefri Ardi

Ketua DPRD Lampung Timur Rida Aliyah Kenang Masa Pesantren Saat Peringatan Hari Santri 2026-Syamsudin-
LAMPUNG TIMUR, RADARTVNEWS.COM – Peringatan Hari Santri Nasional 2026 menjadi momentum penuh makna bagi Ketua DPRD LAMPUNG TIMUR, Rida Ratul Aliyah. Di balik tugas dan tanggung jawabnya sebagai pimpinan legislatif daerah, tersimpan kerinduan mendalam terhadap kehidupan pesantren yang pernah membentuk karakter dan perjalanan hidupnya.
Rida mengenang masa selama 10 tahun menimba ilmu di Pondok Pesantren Miftahul Fallah, Desa Sumbersari Teluk Dalam, Kecamatan Mataram Baru, Lampung Timur. Baginya, pesantren bukan sekadar tempat belajar agama, melainkan ruang pembentukan karakter, kedisiplinan, dan ketangguhan dalam menghadapi kehidupan.
Kerinduan itu ia ungkapkan melalui ungkapan penuh haru tentang keinginannya kembali ke pondok, bertemu para guru, serta mengenang kebersamaan yang menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
“Aku ingin kembali ke pondok, tempat aku belajar mengaji dan menuntut ilmu. Di sana ada kiai-kiaiku, Abah KH Muhtar Sya’roni Ma’soem dan Abah KH Muhit Abdullah, serta guru Al-Qur’anku, almarhumah Ibu Nyai Umi Lathifah Mu’id dan Ibu Nyai Haiatul Musyawaroh yang selalu kurindukan,” ungkap Rida.
Baginya, kenangan selama menjadi santri merupakan pengalaman berharga yang tidak mungkin terulang dengan cara yang sama. Namun, kenangan tersebut tetap hidup dan menjadi sumber kekuatan dalam menjalani pengabdian kepada masyarakat.
BACA JUGA:Dosen ITSNU Lampung Bekali Siswa SMAN 14 Bandar Lampung Kemampuan Public Speaking dalam LDK OSIS
Bangga Menjadi Santri Sepanjang Masa

Ketua DPRD Lampung Timur Rida Rotul Aliyah menyampaikan ucapan selamat hari Santri Nasional 2026-Ist-
Rida menegaskan, menjadi santri merupakan kebanggaan yang tidak pernah luntur meskipun dirinya kini mengemban amanah sebagai Ketua DPRD Lampung Timur.
Ketika ditanya apakah pernah merasa lelah menjalani kehidupan sebagai santri, ia menegaskan bahwa perjuangan menuntut ilmu di pesantren justru memberikan pelajaran hidup yang mendalam.
“Tak sedetik pun aku lelah. Aku sangat dan sangat bangga menjadi santri,” tegasnya.
Menurut Rida, kehidupan pesantren mengajarkan bahwa perjuangan dalam menuntut ilmu merupakan jalan untuk memperoleh keberkahan. Kehidupan di pondok, jauh dari orang tua dan berbagai kenyamanan, menjadi tempaan untuk membangun kemandirian serta ketangguhan.
Ia memandang pesantren sebagai tempat Allah mempersiapkan dirinya untuk turut memperkuat agama dan negeri. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari pembentukan karakter yang terus dibawanya hingga saat ini.
Ungkapan “Aku Santri, Santri Selawaase” menjadi penegasan bahwa identitas santri bukan sekadar bagian dari masa lalu, melainkan nilai yang melekat sepanjang kehidupan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:












