Senin 26-10-2026,13:55 WIB
Reporter:
MG – Kathina Octavia|
Editor:
Jefri Ardi

Ilustrasi masker PM2.5 di tengah kabut asap Palangka Raya dan respons warganet.-Konten Edukasi Kemenkes, generated image -Instagram, edit by Chat GPT
PALANGKA RAYA, RADARTVNEWS.COM — Imbauan memakai masker untuk mengurangi paparan polusi PM2.5 menjadi sorotan warganet di tengah kabut asap yang disebut menyelimuti Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Alih-alih hanya membahas cara melindungi diri, sejumlah komentar pada unggahan edukasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) justru menyinggung kondisi warga yang harus menghadapi asap dalam waktu lama.
Dalam video yang diunggah pada Minggu (25/10/2026), Kemenkes memberikan edukasi mengenai penggunaan masker yang benar untuk membantu mengurangi paparan partikel halus PM2.5. Pesan tersebut menekankan bahwa memakai dua masker sekaligus belum tentu efektif apabila bagian tepinya tidak menempel rapat pada wajah.
Edukasi itu penting karena PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Paparan partikel ini dapat berdampak pada kesehatan, sehingga mengurangi paparan menjadi langkah yang perlu diperhatikan ketika kualitas udara memburuk.
Namun, respons di kolom komentar memperlihatkan persoalan lain yang turut dirasakan warganet. Akun MAMAK MIRZA ZAFIRA menulis, “adaptasi pak, warga 4 bulan loh”.
Sementara itu, akun dokteranak.fihzan turut mempertanyakan, “izin pak singkat saja, bisa beradaptasi?”
BACA JUGA:Dampak Panjang Asap Karhutla Ancam Kesehatan Mental hingga Masa Depan Anak
Kedua komentar tersebut dapat dibaca sebagai sindiran terhadap situasi yang membuat warga harus menghadapi kabut asap dalam waktu panjang. Di balik pertanyaan soal adaptasi, tersirat keresahan mengenai sampai kapan masyarakat harus bertahan dan mengandalkan perlindungan pribadi ketika kualitas udara memburuk.
Meski demikian, komentar tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh warga Palangka Raya mengalami paparan selama empat bulan atau bahwa penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak berjalan. Untuk memastikan kondisi di lapangan, diperlukan data durasi kabut asap, kualitas udara, serta informasi resmi mengenai upaya penanganan karhutla di wilayah terdampak.
Perlindungan diri penting, penanganan sumber asap juga diperlukan
Penggunaan masker yang sesuai dan terpasang rapat dapat membantu mengurangi paparan partikel, bergantung pada jenis serta kualitas masker. Namun, perlindungan pribadi bukan berarti masyarakat harus menerima paparan asap sebagai keadaan yang wajar atau menganggap tubuh dapat kebal setelah terbiasa.
Ketika kabut asap berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan, upaya melindungi kesehatan masyarakat perlu berjalan beriringan dengan penanganan sumber kebakaran, pemantauan kualitas udara, dan penyampaian informasi risiko secara terbuka.
Dengan demikian, komentar warganet pada unggahan Kemenkes tidak hanya menyoroti cara memakai masker. Respons tersebut juga mengangkat pertanyaan yang lebih luas: bagaimana masyarakat dapat melindungi kesehatan ketika kabut asap berlangsung lama?
BACA JUGA:Orangtua Diminta Waspadai Batuk dan Sesak Anak Akibat Asap Karhutla
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
kementerian kesehatan












