Scroll untuk membaca artikel
Wisata Lampung

Asap Karhutla Way Kambas, Kualitas Udara Bandar Lampung Memburuk

×

Asap Karhutla Way Kambas, Kualitas Udara Bandar Lampung Memburuk

Share this article


Asap Karhutla Way Kambas, Kualitas Udara Bandar Lampung Memburuk




Macron Siapkan Pembatasan Kebebasan Sipil Usai Kerusuhan Protes Biaya Hidup di Prancis-Ilustrasi (Magnific)-Magnific

RADARTVNEWS.COM – Kualitas udara di Bandar Lampung masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif pada Minggu (18/10/2026). Kondisi tersebut terjadi di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih melanda Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kabupaten Lampung Timur.

Berdasarkan data indeks kualitas udara AQI? US, konsentrasi partikel halus PM2.5 di Bandar Lampung mencapai 39,1 mikrogram per meter kubik (µg/m³), dengan indeks kualitas udara 110 pada pukul 16.00 WIB.

Baca Juga :  Laut Jadi Lumbung Pangan Masa Depan, Menko Zulhas Dorong Hilirisasi Kelautan dan Perlindungan Mangrove

Sementara itu, Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pesawaran mencatat konsentrasi PM2.5 sebesar 42,5 µg/m³ pada pukul 11.38 WIB. Berdasarkan data pemantauan yang disampaikan, angka tersebut masuk kategori kualitas udara sedang.

BMKG Ingatkan Potensi Penyebaran Asap

Prakirawan BMKG Lampung, Iqbal Arief, mengatakan kualitas udara di Lampung dalam beberapa hari ke depan dipengaruhi perkembangan titik api, arah angin, stabilitas atmosfer, dan potensi hujan.

Ia mengimbau masyarakat agar mewaspadai penurunan kualitas udara, terutama di wilayah yang dilalui penyebaran asap karhutla.

Menurut Iqbal, data pemantauan PM2.5 dari Stasiun Klimatologi Pesawaran menjadi salah satu indikator untuk melihat kondisi kualitas udara di Lampung, termasuk potensi dampak asap kebakaran hutan dan lahan.

Baca Juga :  Dua Hari Pencarian, Pria yang Melompat ke Laut di Pelabuhan Bakauheni Ditemukan Selamat

Stabilitas Atmosfer Memengaruhi Konsentrasi Polutan

Iqbal menjelaskan, penyebaran polutan dari asap karhutla bergantung pada kecepatan angin dan kondisi atmosfer. Ketika atmosfer relatif stabil, terutama pada malam hingga pagi hari, pencampuran udara secara vertikal menjadi terbatas sehingga polutan berpotensi menumpuk di dekat permukaan tanah.

Sebaliknya, saat atmosfer tidak stabil, polutan lebih mudah menyebar ke lapisan udara yang lebih tinggi. Kondisi tersebut memengaruhi konsentrasi asap yang berada di dekat permukaan dan kualitas udara yang dihirup masyarakat.

Hujan Belum Tentu Langsung Membersihkan Udara

Baca Juga :  Pasar Saham Asia Melemah di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global

Meski hujan mulai turun di sejumlah wilayah Lampung, Iqbal menyebut efektivitas hujan dalam membersihkan partikel polutan tetap bergantung pada durasi dan curah hujan.

Karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap perubahan kualitas udara selama karhutla masih berlangsung. Pemantauan kondisi udara dan perkembangan cuaca diperlukan untuk mengantisipasi wilayah yang berpotensi terdampak penyebaran asap.(*)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

lampung geh news (@lampunggehnews)



Source link