Scroll untuk membaca artikel
Nasional

OMC Lampung Dihentikan karena Tak Ada Awan Potensial, Pemadaman Way Kambas Berlanjut

×

OMC Lampung Dihentikan karena Tak Ada Awan Potensial, Pemadaman Way Kambas Berlanjut

Share this article


OMC Lampung Dihentikan karena Tak Ada Awan Potensial, Pemadaman Way Kambas Berlanjut




Dokumentasi Pemprov Lampung-Pemerintah Provinsi Lampung-Instagram

LAMPUNG, RADARTVNEWS.COM— Penanganan kebakaran hutan dan lahan di Taman Nasional Way Kambas (TNWK) masih berlanjut meski hasil evaluasi menunjukkan titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi turun menjadi nihil. Dalam perkembangan yang disampaikan Senin (19/10/2026), BPBD Lampung menyebut sekitar 30 hektare kawasan masih terindikasi terbakar atau mengeluarkan asap, sementara Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dihentikan karena tidak ditemukan awan potensial untuk disemai.lampung.nu+1

Keterangan terbaru tersebut memperjelas bahwa penurunan titik panas belum dapat disamakan dengan padamnya seluruh kebakaran. Pemadaman darat dan dukungan udara tetap menjadi bagian penanganan di kawasan konservasi tersebut. 

“Operasi modifikasi cuaca dihentikan per hari tanggal 18 Oktober, karena tidak ditemukan awan potensial untuk disemai,” kata Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Lampung Aswarodi dalam laporan penanganan karhutla pada Senin (19/10/2026) 

Wagub memantau kesiapan penanganan

Sehari sebelumnya, Minggu (18/10/2026), Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela memantau penanganan karhutla dan perkembangan OMC di Posko OMC, Bandara Radin Inten II, Lampung Selatan. Peninjauan mencakup kesiapan personel, peralatan, dan strategi pemadaman di TNWK.

Penanganan diperkuat 350 personel gabungan, termasuk tambahan 200 personel TNI. Dukungan peralatan juga mencakup bantuan 15 unit nozzle dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk menunjang pemadaman darat. 

Baca Juga :  Dita Karang Gabung HIGHBREED, Siap Perluas Karier Solo ke Panggung Internasional

“Penguatan penanganan dari darat menjadi penting karena operasi pemadaman melalui udara atau water bombing masih menghadapi kendala kondisi vegetasi TNWK yang memiliki tajuk pepohonan rapat,” kata Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela, sebagaimana diberitakan NU Online Lampung pada 19 Oktober 2026. 

Menurut Jihan, kondisi tersebut menghambat air mencapai permukaan lahan gambut secara optimal. Karena itu, pemadaman langsung oleh personel di lapangan tetap diperlukan. 

BACA JUGA:BACA JUGA:MUI Desak Pemerintah Tuntaskan Karhutla, Serukan Taubat Nasuha

OMC bergantung pada kondisi awan

Aswarodi menjelaskan, OMC yang secara khusus menyasar TNWK dilaksanakan pada 11–13 Oktober 2026. Kegiatan tersebut mencatat tiga sorti penerbangan dengan waktu terbang enam jam 16 menit dan menggunakan 3.000 kilogram natrium klorida atau NaCl sebagai bahan semai. 

Operasi kemudian dilanjutkan pada 14–18 Oktober dengan sasaran Lampung dan Palembang. Namun, awan yang memenuhi syarat penyemaian tidak ditemukan di wilayah Lampung. 

“Fokus OMC dilaksanakan penyemaian untuk daerah Sumatra Selatan atau Palembang. Untuk Palembang bahan semainya dry ice, sedangkan untuk Lampung menggunakan NaCl,” kata Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Lampung Aswarodi, dikutip dari IDN Times Lampung. 

Dalam evaluasi yang diberitakan Kompas.com pada 19 Oktober, penyemaian NaCl pada 11–13 Oktober disebut memicu hujan, tetapi hujan turun di Kota Metro dan Kecamatan Natar, bukan di TNWK yang menjadi sasaran utama. 

Baca Juga :  Tradisi Hodo Jadi Project Film Mahasiswa Universitas Jember

Catatan tersebut menunjukkan keterbatasan hasil operasi terhadap kebutuhan pemadaman di lokasi sasaran. Meski demikian, belum ada dasar untuk menyebut seluruh penanganan gagal, karena operasi darat dan water bombing juga berlangsung.

Sekitar 30 hektare masih terindikasi terbakar atau berasap

Berdasarkan pemantauan drone yang disampaikan BPBD, sekitar 30 hektare kawasan masih terindikasi terbakar atau berasap. Temuan tersebut tersebar di beberapa titik penanganan. Angka ini bukan luas keseluruhan kebakaran TNWK sepanjang tahun. 

Aswarodi menyebut vegetasi rapat dan jarak sumber air sebagai kendala. Sungai Way Pegadungan, yang menjadi salah satu sumber air, berjarak sekitar 1,5 kilometer dari titik api. 

Tim darat melakukan pemantauan menggunakan drone, membuka akses menuju lokasi, dan memadamkan api menggunakan pompa portabel serta jet shooter. Sementara itu, water bombing diarahkan ke area yang tidak dapat dijangkau tim darat. 

“Pemadaman darat difokuskan di titik B dan D, sedangkan water bombing difokuskan di area yang tidak dapat dijangkau oleh tim satgas darat,” kata Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Lampung Aswarodi. 

Capaian operasi perlu dibedakan dari luas yang dipastikan padam

BPBD melaporkan sedikitnya 923 kali penyiraman melalui water bombing sejak 25 September hingga 18 Oktober, dengan estimasi area terkena siraman sekitar 124 hektare. Dalam periode yang sama, luas penanganan pemadaman darat dilaporkan mencapai sekitar 192 hektare. 

Baca Juga :  Doctor X Ratu Rating Drakor On Going Pekan Ini, Kim Ji Won Langsung Cetak Rekor

Kedua angka tersebut tidak dapat langsung dijumlahkan sebagai luas unik yang sudah padam. Sumber yang digunakan belum menjelaskan kemungkinan tumpang tindih lokasi, pengulangan penyiraman, maupun hasil pemeriksaan akhir setiap area.

Demikian pula, nihilnya titik panas berkepercayaan tinggi perlu dibaca bersama temuan lapangan. Evaluasi masih mencatat titik panas berkepercayaan sedang, sementara pemantauan drone menemukan area yang terindikasi terbakar atau berasap.lampung.nu+1

Per 19 Oktober, informasi yang dapat disampaikan adalah OMC dihentikan karena keterbatasan awan potensial, sedangkan pemadaman di TNWK belum selesai. Penilaian efektivitas penanganan masih memerlukan perkembangan luas area yang benar-benar terkendali dan hasil pemeriksaan lapangan.

Apakah asap masih terasa di sekitar tempat tinggal Anda? Sampaikan lokasi, waktu pengamatan, dan kondisi yang terlihat. Informasi warga perlu diverifikasi dan tidak menggantikan pengukuran kualitas udara maupun pemeriksaan petugas.

BACA JUGA:H. Umran Harun Kembali Pimpin HKSL Lampung Siap Teguhkan Persatuan dan Pelestarian Budaya

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

kompas.com



Source link