Jumat 30-10-2026,12:58 WIB
Reporter:
MG – Kathina Octavia|
Editor:
Jefri Ardi

Unggahan BPBD PROVINSI LAMPUNG-BPBD PROVINSI LAMPUNG-Instagram
TANGGAMUS, RADARTVNEWS.COM – Rentetan gempa bumi yang terjadi di Kabupaten Tanggamus, Lampung, selama dua hari terakhir tidak hanya membuat warga khawatir, tetapi juga menyebabkan kerusakan pada salah satu rumah warga. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 76 kejadian gempa sejak Rabu (28/10/2026) hingga Kamis (29/10/2026), dengan tiga kejadian dirasakan masyarakat.
Kerusakan rumah dilaporkan terjadi di Pekon Argopeni, Kecamatan Sumberejo. Rumah milik Harmiyah mengalami kerusakan pada bagian atap setelah gempa mengguncang wilayah tersebut pada Rabu malam (28/10/2026).
Petugas Polsek Sumberejo melakukan pengecekan ke lokasi sekitar pukul 21.24 WIB untuk memastikan kondisi bangunan yang erdampak. Berdasarkan hasil pemeriksaan, kerusakan ditemukan pada bagian genteng kerpus sepanjang kurang lebih 1,5 meter.
Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Kerugian materiil akibat kerusakan rumah diperkirakan mencapai Rp300 ribu.
Di tengah laporan kerusakan tersebut, aktivitas kegempaan di Tanggamus masih menjadi perhatian. Analis Gempa Bumi BMKG Stasiun Geofisika Lampung Utara, Febri, mengatakan jumlah gempa yang tercatat sejak 28 Oktober hingga 29 Oktober 2026 mencapai 76 kejadian.
“Dari tanggal 28 Oktober sampai hari ini, kejadian gempa yang terjadi di wilayah Tanggamus sudah sebanyak 76 kejadian gempa,” kata Febri, Kamis (29/10/2026).
Dari puluhan kejadian tersebut, gempa dengan magnitudo terbesar tercatat mencapai 4,7. Namun, tidak seluruh gempa dirasakan masyarakat karena sebagian kejadian hanya terdeteksi melalui pemantauan alat BMKG.
Gempa Berulang Membuat Warga Khawatir
Kekhawatiran warga juga terlihat ketika guncangan terjadi pada Rabu sore (28/10/2026). Sejumlah orang dilaporkan bergegas keluar dari bangunan untuk menghindari risiko apabila guncangan berlangsung lebih lama.
Danu, warga Pugung, Tanggamus, mengatakan guncangan dirasakan ketika aktivitas di lingkungan perkantoran masih berlangsung. Sejumlah orang di sekitarnya langsung keluar ruangan saat merasakan getaran.
“Geger, pada keluar semua,” kata Danu, seperti dikutip detikSumbagsel, Kamis (29/10/2026).
Sementara itu, Devi Triyani, warga Pekon Banyu Urip, Kecamatan Wonosobo, mengaku merasakan rumahnya bergoyang ketika sedang berbaring. Ia menggambarkan getaran tersebut seperti sedang diayak dan mengaku khawatir jika berlangsung lebih lama.
Pengalaman warga tersebut menunjukkan bahwa meskipun hanya sebagian gempa dirasakan, rangkaian guncangan tetap memicu kekhawatiran di tengah masyarakat.
BACA JUGA:Hujan Kembali Guyur Bandar Lampung, Kota Terasa Dingin, Berapa Suhu Tercatat BMKG?
BMKG Sebut Aktivitas Sesar Jadi Pemicu
BMKG menjelaskan rentetan gempa di Tanggamus dipicu oleh aktivitas sesar aktif di wilayah tersebut.
Dalam keterangan resmi mengenai gempa yang dirasakan pada 28 Oktober 2026, BMKG mencatat dua gempa terjadi dalam rentang satu menit. Gempa pertama terjadi pukul 15.22.47 WIB dengan magnitudo hasil pemutakhiran 3,9. Episenternya berada di darat, sekitar 9 kilometer barat laut Tanggamus, pada kedalaman 4 kilometer.
Gempa kedua terjadi pukul 15.23.47 WIB dengan magnitudo 4,1. Pusat gempa berada sekitar 6 kilometer barat laut Tanggamus, pada kedalaman 5 kilometer.
BMKG mengategorikan kedua kejadian tersebut sebagai gempa dangkal akibat aktivitas sesar aktif. Getarannya dirasakan pada intensitas III MMI di Kotaagung, serta II MMI di Kotabumi, Pringsewu, Ulu Belu, Gisting, Sumberejo, dan Kotaagung Timur.
Hingga pukul 16.14 WIB pada 28 Oktober 2026, BMKG mencatat 20 aktivitas gempa susulan.
Terkait kemungkinan terjadinya gempa yang lebih besar, Febri menegaskan bahwa hal tersebut belum dapat diprediksi.
“Untuk adakah potensi gempa yang lebih besar dari sebelumnya masih belum bisa kami prediksi, ya, karena gempa bumi masih belum bisa diprediksi,” ujarnya.
Warga Diminta Tetap Tenang dan Waspada
BMKG mengimbau masyarakat di Kabupaten Tanggamus dan wilayah sekitarnya agar tetap tenang serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum jelas sumbernya.
Warga juga diminta mengikuti perkembangan aktivitas kegempaan melalui kanal resmi BMKG. Apabila menemukan kerusakan bangunan setelah gempa, masyarakat perlu melaporkannya kepada pihak berwenang dan menghindari bagian bangunan yang berpotensi membahayakan.
Rentetan gempa di Tanggamus menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana. Di tengah aktivitas sesar yang masih terpantau, informasi resmi dan pemeriksaan kondisi bangunan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko bagi warga.
BACA JUGA:BMKG Peringatkan Hujan Lebat dan Angin Kencang di Sejumlah Wilayah Lampung
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
bmkg stasiun geofisika lampung utara












