Jumat 30-10-2026,21:57 WIB
Reporter:
MG – Kathina Octavia|
Editor:
Jefri Ardi

ktivitas petani saat panen cabai-Vecctezy-Pinterest
JAKARTA, RADARTVNEWS.COM – Harga cabai rawit di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, mencapai Rp150.000 per kilogram. Di tengah tingginya harga komoditas tersebut, Kementerian Perdagangan (Kemendag) memfasilitasi pengiriman tujuh ton cabai rawit dari Probolinggo, Jawa Timur, untuk menambah pasokan dan menekan kesenjangan harga antarwilayah.
Berdasarkan Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kemendag per 27 Oktober 2026, harga cabai rawit di Halmahera Utara berada di kisaran Rp150.000 per kilogram. Kondisi ini menjadi salah satu pertimbangan pemerintah untuk menghubungkan daerah sentra produksi dengan wilayah yang mengalami keterbatasan pasokan.
Informasi tersebut disampaikan Kemendag melalui siaran pers pada Jumat (30/10/2026). Pengiriman tujuh ton cabai rawit itu dilakukan sebagai bagian dari upaya memperkuat distribusi pangan antardaerah sekaligus menjaga ketersediaan kebutuhan pokok menjelang Natal 2026 dan Tahun Baru 2027.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, fasilitasi distribusi tersebut diharapkan dapat membantu menyeimbangkan pasokan dan harga komoditas di daerah tujuan.
“Untuk mengatasi kesenjangan harga bapok antarwilayah, Kemendag mendorong kerja sama pasokan antara daerah sentra produksi dan daerah yang membutuhkan. Melalui fasilitasi ini, kami berharap tambahan pasokan dapat menjaga keseimbangan harga, serta memastikan masyarakat memperoleh bapok dengan harga yang terjangkau,” ujar Budi dalam keterangan resmi Kemendag.
Harga diharapkan turun di bawah Rp100 ribu
Tingginya harga cabai rawit di Halmahera Utara menunjukkan persoalan distribusi pangan masih menjadi tantangan, terutama bagi wilayah yang memiliki keterbatasan pasokan dari daerah produksi.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Halmahera Utara, Nyoter Koenoe, menyambut baik tambahan pasokan dari Jawa Timur. Ia berharap pengiriman tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus menekan lonjakan harga yang terjadi di pasar.
Nyoter berharap harga cabai rawit di wilayahnya dapat turun hingga di bawah Rp100.000 per kilogram setelah adanya tambahan pasokan.
Harapan tersebut menjadi salah satu ukuran dampak yang dinantikan masyarakat. Sebab, pengiriman tujuh ton cabai tidak hanya berkaitan dengan kelancaran distribusi, tetapi juga diharapkan berpengaruh terhadap keterjangkauan harga di tingkat konsumen.
Pemerintah perkuat kerja sama distribusi pangan
Pengiriman cabai rawit dari Probolinggo ke Halmahera Utara merupakan kerja sama distribusi yang difasilitasi Kemendag bersama Bank Indonesia Perwakilan Maluku Utara. Program tersebut juga mendapat dukungan Badan Pangan Nasional (Bapanas) melalui Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP).
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Iqbal Shoffan Shofwan, menjelaskan bahwa fasilitasi perdagangan antardaerah menjadi salah satu instrumen untuk membantu pengendalian inflasi. Mekanisme ini dilakukan dengan mempertemukan wilayah yang mengalami kenaikan harga dengan daerah sentra produksi yang memiliki pasokan.
Kemendag juga mendorong penguatan kerja sama antardaerah. Salah satunya melalui fasilitasi kesepakatan kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara dan Pemerintah Kabupaten Malang pada Senin (19/10/2026), dengan dukungan Bank Indonesia melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah.
Selain itu, pemerintah memperkuat jalur distribusi untuk menjangkau wilayah tertinggal, terdepan, terluar, dan perbatasan melalui program Gerai Maritim yang memanfaatkan Tol Laut dan Jembatan Udara.
Program tersebut telah menjangkau 63 kota dan kabupaten melalui Tol Laut serta 12 kabupaten melalui Jembatan Udara. Kemendag mencatat program ini menghasilkan penurunan harga rata-rata sebesar 11,22 persen.
Meski berbagai upaya distribusi terus dilakukan, tantangan berikutnya adalah memastikan tambahan pasokan benar-benar sampai ke pasar dan berdampak pada harga jual yang dibayar masyarakat.
Dengan harga cabai rawit yang sebelumnya mencapai Rp150.000 per kilogram, masyarakat Halmahera Utara kini menantikan apakah tambahan tujuh ton pasokan dari Jawa Timur mampu mendorong harga turun sesuai harapan pemerintah daerah.
BACA JUGA:771 KDKMP Lampung Belum Jalankan Usaha, Padahal Operasional Dimulai 15 Oktober
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
kementerian perdagangan












