Kamis 05-11-2026,08:55 WIB
Reporter:
MG – Sarah Wafi Taqiya|
Editor:
Jefri Ardi

Anggota Komisi IV DPR RI, Riyono, mendesak pemerintah menetapkan status bencana nasional untuk karhutla guna mempercepat penanganan dan kerja sama bilateral.–cnnindonesia
RADARTVNEWS.COM – Hujan yang mulai turun di sejumlah wilayah membawa harapan setelah berbulan-bulan Indonesia dikepung kabut asap karhutla. Meski begitu, kondisi belum sepenuhnya aman. Di beberapa daerah, titik panas tetap terdeteksi, gambut kembali membara, dan asap kembali menebal begitu Hujan reda.
Menurut BNPB, Hujan telah turun di sejumlah daerah, termasuk Kotawaringin Barat, Sukamara, dan Murung Raya di Kalimantan Tengah, serta Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir, Banyuasin, dan Palembang di Sumatera Selatan. Operasi modifikasi cuaca (OMC) berjalan sejak 31 Oktober 2026. Jumlah titik panas tercatat 901 pada 31 Oktober, lalu turun menjadi 156 pada 1 November 2026.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menyampaikan, per Senin (2/11/2026) luas lahan terbakar di Kalimantan Tengah mencapai 351 hektare atau turun 42 persen dibanding sehari sebelumnya. Di Papua Selatan, luas kebakaran turun 56 persen dari lebih dari 700 hektare menjadi 253 hektare.
Hujan juga memperbaiki jarak pandang. Juru bicara Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya, Andi Wiguna, mengatakan jarak pandang membaik menjadi sekitar 3.000 meter dari titik terendah 50 meter saat kabut asap paling parah, sebagaimana dikutip CNA Indonesia. Di Barito Selatan, BPBD melaporkan tidak ada titik panas selama tiga hari terakhir per Minggu (1/11/2026). karhutla di Penajam Paser Utara dan IKN juga tercatat nihil per Selasa (3/11/2026), meski tujuh titik panas dari BMKG tetap dipantau.
Kabar baik itu tidak berlangsung merata. Di Palangka Raya, kabut asap kembali menyelimuti kota pada Selasa (3/11/2026), sehari setelah warga sempat merasakan udara segar. Konsentrasi PM2.5 tercatat 589 pada pukul 13.00 WIB, masuk kategori berbahaya.
Di Sumatera Selatan, BPBD mencatat 17 kejadian karhutla pada 2 dan 3 November, delapan di antaranya di OKI, sedangkan pemantauan 24 jam terakhir mendeteksi 244 titik panas, terbanyak di OKI (130 titik) dan Banyuasin (44 titik). Pada Rabu (4/11/2026) pukul 06.00 WIB, kualitas udara di PALI masih tidak sehat. Di Jambi, gambut di Taman Nasional Berbak dan Sembilang serta Tahura Orang Kayo Hitam kembali membara setelah sempat diguyur Hujan.
Dampaknya juga terasa pada transportasi. Sebanyak 301 penerbangan di Kalimantan Tengah, Timur, dan Utara terganggu kabut asap pada 26 Oktober hingga 1 November 2026. Skor ISPU Balikpapan mencapai 535 pada 2 November, terburuk dibanding kota lain. Di Lembata, Nusa Tenggara Timur, kualitas udara memburuk karena karhutla yang diperparah abu vulkanik Gunung Ile Lewotolok.
BNPB menetapkan Papua Selatan sebagai prioritas penanganan. Hingga 1 November 2026, luas area terbakar 695 hektare dengan 379 titik panas dan 171 titik api masih terpantau, terutama di Merauke. kabut asap lintas batas dengan Papua Nugini juga masih terpantau.
Berton mengingatkan bahwa Hujan yang mulai turun belum menghilangkan potensi kebakaran. Pemerintah daerah di Barito Selatan juga menegaskan bahwa nihilnya titik panas tidak berarti ancaman sudah berakhir. Pada lahan gambut, api bisa tersisa di bawah tanah dan muncul lagi saat Hujan berhenti. Masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan membakar, terus memakai masker saat kualitas udara tidak sehat, dan memantau informasi dari BMKG serta BNPB.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
kompas.id












