Scroll untuk membaca artikel
Wisata Lampung

Bukan untuk Kucing, Ini Cerita Unik di Balik Nama Nasi Kucing yang Melegenda

×

Bukan untuk Kucing, Ini Cerita Unik di Balik Nama Nasi Kucing yang Melegenda

Share this article


Bukan untuk Kucing, Ini Cerita Unik di Balik Nama Nasi Kucing yang Melegenda




Di kenal sebagainya nasi kucing yaitu nasi bungkus dengan porsi sedikit yang biasanya tersedia di angkringan.–

RADARTVNEWS.COM — Nasi kucing menjadi salah satu kuliner sederhana yang mudah ditemukan di berbagai angkringan, terutama di wilayah Yogyakarta, Solo, dan Semarang. Meski memiliki nama yang cukup mengundang rasa penasaran, makanan ini sama sekali tidak menggunakan daging kucing sebagai bahan dasarnya.

Sebaliknya, nasi kucing merupakan hidangan nasi putih dengan porsi kecil yang biasanya disajikan bersama sambal teri, oseng tempe, atau lauk sederhana lainnya. Makanan ini umumnya dibungkus menggunakan kertas nasi maupun daun pisang.

Baca Juga :  Basarnas Gelar Latihan Kedaruratan Kapal Penumpang di Selat Sunda

Lantas, mengapa makanan tersebut justru memiliki nama nasi kucing?

Asal-usul Nama Nasi Kucing

Penyebutan nasi kucing berkaitan dengan ukuran porsinya yang sangat kecil. Porsi nasi tersebut dianggap menyerupai jumlah makanan yang biasanya diberikan kepada seekor kucing.

Dalam penyajiannya, nasi kucing secara tradisional hanya berisi beberapa sendok nasi dengan tambahan lauk dalam jumlah terbatas. Ukurannya yang mungil membuat satu bungkus nasi kucing terkadang tidak cukup untuk mengenyangkan seseorang.

Istilah nasi kucing dikenal luas sebagai bagian dari tradisi kuliner angkringan di kawasan Jawa Tengah dan Yogyakarta. Penamaan tersebut menggambarkan kebiasaan masyarakat menikmati nasi dengan lauk sederhana dan jumlah yang sedikit.

Baca Juga :  Lahar Dingin Semeru Terjang Lumajang, Warga Dusun Sumberlangsep Terisolasi

Berasal dari Tradisi Angkringan

Nasi kucing tidak bisa dilepaskan dari keberadaan angkringan yang berkembang di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Sejarah angkringan di Yogyakarta kerap dikaitkan dengan sosok Mbah Pairo, seorang pedagang asal Klaten yang mulai berjualan di sekitar kawasan Stasiun Tugu Yogyakarta pada 1950-an.

Seiring perkembangannya, angkringan menjadi tempat makan sederhana yang menawarkan berbagai hidangan dengan harga terjangkau. Nasi kucing kemudian menjadi salah satu menu yang paling identik dengan tempat makan tersebut.

Lauk Nasi Kucing Semakin Beragam

Baca Juga :  Pendapatan Petani Meningkat, Ekonomi Lampung Tembus Posisi Kedua di Sumatera

Pada awal kemunculannya, nasi kucing umumnya disajikan dengan lauk sederhana seperti ikan bandeng, teri, dan sambal. Namun, seiring perubahan selera masyarakat, variasi lauknya semakin berkembang.

Kini, nasi kucing dapat ditemukan dengan berbagai pilihan isian, mulai dari sambal teri, oseng tempe, bihun, hingga aneka tumisan lainnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

dinas pariwisata daerah istimewa yogyakarta.



Source link