Jumat 06-11-2026,11:16 WIB
Reporter:
MG – Neza Indira Ajeng Pratiwi|
Editor:
Jefri Ardi

ilustrasi orang curhat dengan AI–pinterest
RADARTVNEWS.COM — Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin memengaruhi kehidupan sehari-hari. Tidak hanya digunakan untuk mencari informasi, mengerjakan tugas, atau membantu pekerjaan, teknologi seperti ChatGPT kini juga dimanfaatkan sebagai tempat mencurahkan isi hati dan berbagi persoalan pribadi.
Fenomena curhat kepada AI mulai menjadi kebiasaan baru bagi sebagian pengguna, terutama generasi muda. Berbagai persoalan, mulai dari masalah pertemanan, hubungan asmara, tekanan akademik, hingga keresahan sehari-hari, kerap dibagikan melalui percakapan dengan chatbot.
Kehadiran AI menawarkan kemudahan yang membuat sebagian orang merasa nyaman untuk bercerita. Pengguna dapat menyampaikan keluh kesah kapan saja tanpa harus menunggu orang lain memiliki waktu luang. Respons yang diberikan juga cenderung terstruktur dan tidak disertai penilaian sosial secara langsung.
Fenomena tersebut turut tergambar dalam survei Snapcart bertajuk In AI, We Trust yang dipublikasikan pada April 2025. Survei terhadap 3.611 responden di Indonesia menunjukkan bahwa 6 persen responden menggunakan AI sebagai teman curhat.
Salah satu faktor yang mendorong kebiasaan tersebut adalah kebutuhan akan ruang bercerita yang terasa aman. Tidak semua orang mudah mengungkapkan persoalan pribadi kepada orang terdekat karena khawatir dianggap berlebihan, disalahpahami, atau mendapatkan respons yang tidak sesuai harapan.
Kondisi tersebut membuat AI menjadi alternatif untuk mengekspresikan perasaan tanpa harus menghadapi konsekuensi sosial secara langsung. Pengguna juga dapat mengulang cerita, meminta sudut pandang berbeda, hingga membicarakan persoalan yang sebelumnya sulit disampaikan kepada orang lain.
Rasa aman secara psikologis menjadi salah satu alasan seseorang lebih terbuka ketika berbicara dengan chatbot. Tanpa harus berhadapan langsung dengan orang lain, pengguna dapat menyampaikan persoalan pribadi tanpa terlalu khawatir akan penilaian maupun respons negatif. Kemudahan akses dan ketersediaan AI sepanjang waktu turut memperkuat daya tarik tersebut.
Selain itu, kesibukan dalam kehidupan modern turut memengaruhi perubahan kebiasaan berkomunikasi. Sebagian orang kesulitan menemukan waktu dan lingkungan yang mendukung untuk berbagi cerita. Kehadiran chatbot yang dapat diakses kapan saja akhirnya menjadi pilihan ketika seseorang membutuhkan teman berbicara.
Meski menawarkan kemudahan, kebiasaan mencurahkan perasaan kepada AI tetap memiliki keterbatasan. Respons yang terdengar empatik tidak berarti teknologi tersebut benar-benar memahami emosi manusia. AI menghasilkan jawaban berdasarkan pola bahasa dan informasi yang dipelajari, bukan pengalaman maupun perasaan sebagaimana yang dimiliki manusia.
Risiko lain muncul ketika pengguna terlalu bergantung pada respons chatbot dalam menghadapi persoalan pribadi. Interaksi yang selalu memberikan validasi dapat membentuk kebiasaan mencari pembenaran atas perasaan maupun keputusan sendiri. Dalam jangka panjang, hal tersebut berpotensi memengaruhi kemampuan seseorang menghadapi perbedaan pendapat dan membangun hubungan sosial di kehidupan nyata.
Ketergantungan berlebihan juga berisiko mengurangi intensitas hubungan antarmanusia. Padahal, komunikasi langsung melibatkan empati, pemahaman konteks, serta respons emosional yang tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh percakapan bersama mesin.
Di sisi lain, penggunaan AI untuk berbagi persoalan pribadi juga perlu memperhatikan keamanan data. Pengguna sebaiknya menghindari membagikan informasi sensitif, seperti nama lengkap, alamat, nomor telepon, maupun identitas pribadi lainnya. Jawaban chatbot juga perlu disikapi secara kritis karena informasi yang diberikan tidak selalu tepat dan sesuai dengan kondisi pengguna.
AI memang dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk mengungkapkan perasaan, menyusun pikiran, atau memperoleh sudut pandang awal ketika menghadapi masalah. Namun, teknologi tersebut bukan pengganti psikolog maupun psikiater. Persoalan kesehatan mental yang membutuhkan penanganan lebih lanjut tetap memerlukan bantuan tenaga profesional.
Meski menawarkan ruang bercerita yang praktis dan mudah diakses, hubungan antarmanusia tetap memiliki peran penting dalam membangun kedekatan, memberikan dukungan, dan memahami perasaan satu sama lain.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
hellosehat












