Scroll untuk membaca artikel
Wisata Lampung

Fosil Burung Raksasa Ditemukan di Flores, Beratnya Diperkirakan Mencapai 3,9 Kilogram

×

Fosil Burung Raksasa Ditemukan di Flores, Beratnya Diperkirakan Mencapai 3,9 Kilogram

Share this article


Fosil Burung Raksasa Ditemukan di Flores, Beratnya Diperkirakan Mencapai 3,9 Kilogram




Burung megapoda purba Megapodius rokusi yang diperkirakan pernah hidup di Pulau Flores sekitar 190.000 hingga 120.000 tahun lalu. –Ilustrasi: Pinterest

RADARTVNEWS.COM – Penemuan fosil burung purba di Gua Liang Bua, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, mengungkap keberadaan spesies burung yang pernah hidup puluhan hingga ratusan ribu tahun lalu.

Spesies tersebut diberi nama Megapodius rokusi, yakni kelompok burung megapoda yang masih berkerabat dengan ayam dan dikenal memiliki kebiasaan unik dalam menetaskan telur menggunakan panas lingkungan.

Baca Juga :  Kantongi Dukungan 80,83 Persen, Dua Balon PWI Lampung Diserahkan ke PWI Pusat

Penemuan ini menjadi catatan penting bagi penelitian sejarah keanekaragaman satwa di kawasan Wallacea, wilayah kepulauan yang berada di antara Asia dan Australia.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Alcheringa: An Australasian Journal of Palaeontology pada 22 Oktober 2026 itu mengidentifikasi spesies tersebut berdasarkan fosil sebagian tulang kaki yang ditemukan dalam penggalian di Gua Liang Bua pada 2009.

Berdasarkan analisis peneliti, fosil tersebut berasal dari lapisan sedimen yang diperkirakan berusia sekitar 190.000 hingga 120.000 tahun.

Hal yang menarik perhatian adalah ukuran tubuh burung purba tersebut. Peneliti memperkirakan Megapodius rokusimemiliki berat sekitar 3,9 kilogram. Ukuran ini menjadikannya spesies terbesar dalam genus Megapodius yang pernah diketahui hingga penelitian tersebut diterbitkan.

Baca Juga :  Kasus Darurat Militer, Mantan Presiden Korsel Yoon Suk Yeol Dituntut Hukuman Mati

Sebagai perbandingan, megapoda kaki jingga yang masih hidup di Flores saat ini memiliki ukuran tubuh lebih kecil.

Memiliki Cara Unik Menetaskan Telur

Selain ukurannya, kelompok burung megapoda juga mempunyai karakteristik reproduksi yang berbeda dari kebanyakan burung.

Burung ini tidak mengandalkan panas tubuh induknya untuk mengerami telur. Sebaliknya, telur dikubur di dalam tanah atau tumpukan material organik yang menghasilkan panas dari lingkungan.

Setelah menetas, anak burung megapoda umumnya sudah memiliki kemampuan berkembang yang cukup baik sehingga tidak membutuhkan perawatan induk seperti kebanyakan jenis burung lainnya.

Baca Juga :  Punya Bulu Berwarna Perak, Semut Gurun Sahara Mampu Bertahan di Suhu Ekstrem

Peneliti juga menjelaskan bahwa telur megapoda memiliki kandungan kuning telur yang relatif besar. Kondisi tersebut membuat telurnya berpotensi menjadi sumber makanan bagi manusia dan hewan pada masa lampau.

Menambah Catatan Sejarah Keanekaragaman Flores

Penemuan Megapodius rokusi menjadi fosil megapoda pertama yang berhasil dideskripsikan dari kawasan Wallacea.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:



Source link