Scroll untuk membaca artikel
Nasional

Karhutla di Papua Selatan, Ini Satwa Khas Papua yang Habitatnya Terancam

×

Karhutla di Papua Selatan, Ini Satwa Khas Papua yang Habitatnya Terancam

Share this article


Karhutla di Papua Selatan, Ini Satwa Khas Papua yang Habitatnya Terancam




BNPB melaporkan 742 hektare lahan masih terbakar di Indonesia per November 2026, dengan Kalteng dan Papua Selatan terluas.–CNNIn

RADARTVNEWS.COM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus meluas di Papua Selatan tidak hanya merusak tutupan hijau, tetapi juga membawa ancaman serius bagi satwa liar endemik Papua. Dalam unggahan Instagram Nusantara Post, karhutla disebut mengancam habitat satwa endemik, termasuk lebih dari 400 spesies burung, walabi, kanguru pohon, dan satwa lain yang terancam kehilangan ruang hidup secara permanen.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat luas area terbakar di Papua Selatan mencapai 695 hektare per 1 November 2026 pukul 17.00 WIB. Dari jumlah tersebut, sekitar 253 hektare belum padam. Pemantauan lewat citra satelit, drone, dan sistem digital bersama BMKG masih memperlihatkan kepulan asap dan sejumlah titik api di Kabupaten Merauke.

Baca Juga :  Penggerebekan Ponpes Hamalatul Qur’an di Sukoharjo Tuai Kontroversi, 12 Santriwati Sempat Diamankan

Angka itu tergolong kecil dibanding catatan masyarakat sipil. Menurut Direktur Yayasan Wasur Lestari Papua (YWLP), Paschalina Rahawarin, area terindikasi terbakar di Papua Selatan pada Januari hingga Juli 2026 mencapai 41.789 hektare, dengan Merauke menjadi yang terluas, yakni 33.609 hektare. Hingga 24 September 2026, tercatat 2.977 titik panas di Papua Selatan, terbanyak di Indonesia. Perbedaan angka ini kemungkinan terjadi karena cakupan waktu dan metode pencatatan yang berbeda.

Salah satu kawasan yang terancam adalah Taman Nasional (TN) Wasur di Merauke, yang dikenal sebagai “Serengeti Papua”. Kawasan lahan basah ini memadukan rawa, savana, dan hutan. Data Balai TN Wasur mencatat 403 spesies burung, 74 di antaranya endemik Papua dan sekitar 114 spesies diperkirakan dilindungi. Kawasan ini juga menjadi persinggahan burung migran dari Australia dan Selandia Baru.

Baca Juga :  Sejumlah Musisi Acungkan Salam Tiga Jari di AMI Awards 2026, Suarakan Solidaritas dan Keresahan Sosial

Berdasarkan data MapBiomas Fire yang dirangkum Beritasatu, TN Wasur menjadi taman nasional dengan area terbakar terluas pada 2026, sekitar 21.277,79 hektare. Kebakaran mengancam habitat walabi, kasuari, dan beragam burung air. Taman Nasional Lorentz di Papua, habitat kanguru pohon dan cenderawasih, juga terbakar sekitar 14.344,91 hektare.

Perwakilan pemuda Papua Selatan yang menelusuri TN Wasur pada Oktober 2026 menyebut sekitar 8.708 hektare lahan konservasi telah terbakar, termasuk habitat kasuari, labi-labi, dan rusa.

Kebakaran merusak vegetasi dan lahan basah yang menjadi tempat berlindung, mencari makan, hingga berkembang biak. Kebakaran berulang juga dikhawatirkan mengubah struktur vegetasi asli yang menopang kehidupan satwa, termasuk burung migran yang bergantung pada kestabilan lahan basah. Dalam sumber yang kami telusuri, belum ditemukan data resmi jumlah satwa yang mati akibat kebakaran ini, sehingga yang tergambar saat ini adalah ancaman terhadap habitat dan kehidupan satwa.

Baca Juga :  5 Resep Makanan Sehat untuk Diet, Enak dan Mudah Dibuat di Rumah

Paschalina menilai karhutla di Papua Selatan tidak hanya dipicu El Niño. Ia menyebut perusahaan pemegang konsesi sawit dan pembalakan kayu di provinsi itu turut menjadi faktor. Pernyataan tersebut merupakan pandangan narasumber diskusi dan perlu dibuktikan melalui proses penegakan hukum.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

instagram @nusantarapost.news



Source link