Scroll untuk membaca artikel
Wisata Lampung

Punya Bulu Berwarna Perak, Semut Gurun Sahara Mampu Bertahan di Suhu Ekstrem

×

Punya Bulu Berwarna Perak, Semut Gurun Sahara Mampu Bertahan di Suhu Ekstrem

Share this article


Punya Bulu Berwarna Perak, Semut Gurun Sahara Mampu Bertahan di Suhu Ekstrem




Semut perak Sahara (Cataglyphis bombycina) memiliki lapisan bulu mikroskopis berwarna keperakan yang membantu memantulkan cahaya matahari dan melepaskan panas tubuh. –Ilustrasi: Pinterest

RADARTVNEWS.COM – Kemampuan bertahan hidup di lingkungan bersuhu tinggi tidak hanya dimiliki hewan berukuran besar. Semut perak Sahara (Cataglyphis bombycina) menjadi salah satu contoh serangga dengan mekanisme adaptasi alami yang unik untuk menghadapi panas ekstrem di Gurun Sahara, Afrika Utara.

Serangga berukuran kecil ini memiliki tubuh berwarna keperakan yang bukan sekadar menjadi ciri fisiknya. Warna tersebut berasal dari lapisan bulu mikroskopis yang menutupi bagian atas dan samping tubuhnya.

Baca Juga :  Harga Cabai Tembus Rp150 Ribu per Kg, Kemendag Kirim 7 Ton Pasokan ke Halmahera

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science pada 2015 oleh Norman Nan Shi dan tim peneliti mengungkap bahwa bulu tersebut memiliki struktur berbentuk segitiga dengan permukaan bergelombang.

Struktur ini memungkinkan tubuh semut memantulkan sebagian besar cahaya matahari, termasuk cahaya tampak dan inframerah dekat. Dengan demikian, energi panas yang diserap dari paparan sinar matahari dapat dikurangi.

Menariknya, lapisan bulu tersebut juga membantu semut melepaskan panas melalui radiasi inframerah tengah. Kedua mekanisme ini bekerja bersama untuk menjaga suhu tubuh agar tidak meningkat terlalu cepat ketika berada di bawah terik matahari.

Baca Juga :  Rahasia Tamagoyaki Lebih Lembut, Ternyata Bisa Tambahkan Air Soda

Mampu Mencari Makanan Saat Gurun Sangat Panas

Berbeda dengan banyak serangga yang menghindari aktivitas ketika suhu lingkungan meningkat, semut perak Sahara justru dikenal mencari makanan pada siang hari.

Semut pekerja biasanya keluar dari sarang untuk mencari bangkai serangga dan hewan artropoda lain yang mati akibat kondisi panas gurun.

Dalam penelitian sebelumnya, permukaan pasir gurun pada siang musim panas dapat mencapai suhu sekitar 60 hingga 70 derajat Celsius. 

Sementara itu, suhu tubuh semut perak Sahara tercatat berada pada kisaran 48 hingga 51 derajat Celsius ketika menghadapi kondisi tersebut.

Baca Juga :  15 Pelajar Bandar Lampung Terima Beasiswa Konsulat Jenderal Tiongkok

Kemampuan ini didukung oleh adaptasi fisik serta perilaku. Semut tersebut dapat berhenti sejenak di atas batu atau tumbuhan kering untuk mengurangi paparan panas dari permukaan pasir.

Menginspirasi Pengembangan Teknologi Pendingin

Keunikan struktur bulu semut perak Sahara tidak hanya menarik perhatian ahli biologi, tetapi juga peneliti bidang material dan teknologi.

Mekanisme pemantulan cahaya serta pelepasan panas yang dimiliki serangga ini berpotensi menjadi inspirasi dalam pengembangan material pendingin pasif.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:



Source link