Scroll untuk membaca artikel
Peristiwa

Dikunjungi Mendag Zulkifli Hasan, GGF Ungkap Tingginya Pajak Ekspor di Negara Tujuan

48
×

Dikunjungi Mendag Zulkifli Hasan, GGF Ungkap Tingginya Pajak Ekspor di Negara Tujuan

Share this article
Kunjungan Mendag di sambut Direktur Corporate Affairs GGF, Welly Soegiono beserta jajarannya.

LAMPUNG TENGAH – Menteri Perdagangan (Mendag) Republik Indonesia Zulkifli Hasan, melakukan kunjungan kerja ke Great Giant Food (GGF) Umasjaya, Kecamatan Terbanggibesar, Lampung Tengah (Lamteng), Jumat (3/3/2023).

Kunjungan Mendag di sambut Direktur Corporate Affairs GGF, Welly Soegiono beserta jajarannya. Dalam kunjungan tersebut Mendag Zulkifli Hasan meninjau langsung proses produksi nanas kaleng di PT Great Giant Pineapple (GGP). Saat melakukan tinjauan, GGF menyampaikan kepada Mendag Zulkifli Hasan bahwa selama ini dikenakan pajak masuk ekspor ke negara tujuan dengan nilai cukup tinggi.

Direktur Corporate Affairs GGF, Welly Soegiono mengatakan bahwa GGF telah melakukan ekspor buah nanas kaleng dan pisang ke 65 negara dengan jumlah ekspor perhari sebanyak 40 kontainer nanas kaleng. Untuk itu pihaknya berharap pemerintah pusat bisa membantu untuk menekan nilai pajak masuk ekspor terutama kenegara-negara di Eropa yang merupakan market terbesar GGF.

“Masalah diskriminasi biaya masuk di negara tujuan ekspor sudah terjadi selama 15 tahun. Salah satunya ke negera-negara Eropa yang menjadi market terbesar GGF, kami dikenakan biaya masuk ekspor sebesar 16 persen. Sedangkan Negara Filipina yang beli nanas di GGF, justru dikenakan pajak ekspor 0 persen. Ini yang perlu segera dirundingkan. Sebab kalau kita mau meningkatkan ekspor yang instan, itu bukan nambah lahan atau produksi, tapi bagaimana biaya masuk ekspor bisa lebih ditekan,” ujarnya.

Welly menambahkan, sudah saatnya antara  pemerintah dan swasta dapat bersinergi positif untuk dapat menyelesaikan perundingan dengan negara lain diluar negeri. Sehingga dampaknya memberikan devisa hasil ekspor yang lebih besar.

Meski dengan pajak 16 persen, lanjut Welly tidak berdampak terhadap tenaga kerja maupun hasil produksi di GGF. Sebab di Eropa GGF masih menguasai pasar sekitar 23 persen. Apalagi jika GGF bisa 0 persen untuk biaya masuk ekspor, dipastikan bisa meningkatkan devisa. “Sejauh ini dengan biaya masuk ekspor 16 persen GGF dengan lahan 32 ribu hektar dan 30 ribu lebih karyawan ini mampu menyumbang Devisa Hasil Ekspor (DHE) sebanyak 350 juta US$ dollar pertahun. Jika bisa 0 persen maka akan menyumbangkan devisa yang jauh lebih besar lagi untuk negara,” terangnya.

Pihaknya berharap pemerintah yang selama ini sudah bekerja keras, dapat bisa lebih kerja keras lagi untuk menyelesaikan perundingan dengan direktur jendral perundingan Internasional, dan pemerintah dengan swasta untuk bersinergi  meningkatkan devisa negara.

Sementara itu Zulkifli Hasan mengaku baru mengetahui akan adanya ketidak adilan nilai pajak biaya masuk ekspor diluar negeri.

“Kita baru tadi mendapatkan laporan bahwa GGF kena pajak 16 persen di Eropa, bahkan di Turki mencapai 58 persen, Korea Selatan 30 persen. Kita akan secepatnya memanggil Duta Besar negaranya, untuk kita tanyakan dan mencari solusinya, agar bisa mendapatkan keadilan. Kita harus ada imbal balik terkait ekspor dan impor tentunya ini jangan sampai memberatkan perusahaan,” bebernya.(tka/san)