Jumat 30-10-2026,19:59 WIB
Reporter:
MG – Kathina Octavia|
Editor:
Jefri Ardi

Tangkapan Layar Unggahan Gugun Gumilar-Gugun Gumilar-Gugun Gumilar
JAKARTA, RADARTVNEWS.COM – Perbedaan keyakinan tidak seharusnya menjadi batas dalam membangun persaudaraan. Pesan tersebut disampaikan Staf Khusus Menteri Agama, Gugun Gumilar, saat menjadi narasumber dalam Festival Kebudayaan Pemuda yang mempertemukan generasi muda lintas agama dan budaya di Jakarta.
Melalui unggahan akun Instagram pribadinya, @gugungumilar89, yang dipublikasikan Kamis (29/10/2026), Gugun membagikan catatan mengenai pentingnya menjadikan keberagaman sebagai kekuatan dalam membangun bangsa. Ia juga mengangkat nilai cinta kasih dan welas asih dalam ajaran Buddha sebagai pesan yang relevan untuk memperkuat toleransi.
Festival Kebudayaan Pemuda tersebut mengusung tema “Bergema dalam Harmoni, Berkarya untuk Nusantara” dan diselenggarakan oleh Soka Gakkai Indonesia bersama Generasi Muda Buddhis Indonesia (GEMABUDHI) pada Minggu (18/10/2026), di Gedung Pusat Kebudayaan Soka Gakkai Indonesia, Jakarta.
Dalam kegiatan itu, Gugun mengajak generasi muda menjadikan keberagaman sebagai kekuatan untuk membangun bangsa. Semangat Bhinneka Tunggal Ika, menurut pesan yang disampaikannya, perlu diwujudkan melalui sikap saling menghormati, keterbukaan dalam berdialog, serta kolaborasi lintas agama dan budaya.
Salah satu hal yang disoroti Gugun adalah nilai Mett? dan Karu?? dalam ajaran Buddha. Mett? mengajarkan cinta kasih universal, sedangkan Karu?? mengajarkan welas asih terhadap sesama.
Kedua nilai tersebut mengingatkan bahwa kedamaian dapat dimulai dari pikiran, ucapan, dan perbuatan yang penuh kasih, tanpa membedakan agama, suku, maupun latar belakang.
Dalam catatan unggahannya, Gugun menegaskan bahwa berbeda keyakinan bukan penghalang untuk berjalan beriringan. Cinta kasih dan welas asih justru dapat menjadi landasan untuk melampaui perbedaan, mempererat persaudaraan, dan merawat keberagaman Indonesia.
Deklarasi pemuda lintas iman
Festival Kebudayaan Pemuda 2026 tidak hanya menjadi ruang penyampaian pesan toleransi, tetapi juga mempertemukan organisasi kepemudaan dari berbagai latar belakang agama.
Berdasarkan laporan resmi GEMABUDHI, kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Gugun Gumilar, Bambang Patijaya, serta akademisi bidang kreatif Devie Rahmawati.
Rangkaian kegiatan juga diisi dengan pertunjukan seni dan budaya, seperti instrumen tradisional koto, Genderang Langit, serta Dynamic Dance. Perpaduan kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan keberagaman budaya sekaligus membangun komunikasi antargenerasi dan antaridentitas.
Salah satu agenda penting dalam festival tersebut adalah pembacaan dan penandatanganan Deklarasi Pemuda Nusantara. Deklarasi ini melibatkan sejumlah organisasi kepemudaan lintas iman, termasuk GAMKI, Pemuda Katolik, GEMAPAKTI, PERADAH, HIKMAHBUDHI, dan GEMABUDHI.
Melalui deklarasi tersebut, para pemuda menyatakan komitmen untuk menjunjung nilai kebangsaan, merawat keberagaman, membangun persatuan, serta mengambil peran nyata bagi masa depan Indonesia.
Kerukunan perlu diwujudkan melalui tindakan
Pesan toleransi yang disampaikan dalam festival tersebut menjadi relevan di tengah kehidupan masyarakat Indonesia yang memiliki beragam agama, suku, dan budaya. Kerukunan tidak cukup hanya disampaikan melalui slogan, tetapi perlu diterapkan dalam hubungan sosial sehari-hari.
Keterbukaan berdialog, menghargai keyakinan orang lain, dan bekerja sama dalam kegiatan kemasyarakatan menjadi beberapa bentuk nyata dalam merawat persaudaraan.
Sebagai Staf Khusus Menteri Agama, Gugun hadir dalam kegiatan tersebut untuk menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga harmoni kehidupan beragama. Nilai Mett? dan Karu?? yang diangkatnya menunjukkan bahwa ajaran luhur suatu agama dapat menjadi inspirasi untuk membangun kehidupan bersama tanpa harus menghilangkan perbedaan keyakinan.
Namun, upaya membangun toleransi tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah atau organisasi keagamaan. Peran masyarakat, khususnya generasi muda, diperlukan agar nilai persatuan dapat diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Melalui semangat “Bergema dalam Harmoni, Berkarya untuk Nusantara”, generasi muda diharapkan tidak sekadar menerima keberagaman sebagai kenyataan, tetapi turut menjaganya melalui sikap saling menghormati dan kerja sama lintas agama.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:












