Sabtu 31-10-2026,23:05 WIB
Reporter:
MG – Nabila Shafira |
Editor:
Jefri Ardi

Ilustrasi berbagai jenis pemanis rendah kalori yang digunakan sebagai pengganti gula dalam makanan dan minuman.–Ilustrasi: Dokumentasi pribadi
RADARTVNEWS.COM – Pemanis buatan kerap dipilih sebagai pengganti gula karena dianggap lebih rendah kalori. Produk ini banyak ditemukan dalam minuman soda tanpa gula, yogurt, minuman berperisa, hingga berbagai makanan rendah kalori.
Namun, penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Neurology menemukan adanya hubungan antara konsumsi sejumlah pemanis rendah kalori dengan penurunan kemampuan kognitif, terutama daya ingat dan kemampuan berbahasa.
Penelitian yang dilakukan oleh tim ilmuwan dari Universitas São Paulo, Brasil, tersebut melibatkan 12.772 orang dewasa dengan rata-rata usia 52 tahun. Para peserta dipantau selama kurang lebih delapan tahun untuk melihat perubahan kemampuan berpikir dan mengingat.
Peneliti mengamati konsumsi tujuh jenis pemanis, yakni aspartam, sakarin, asesulfam-K, eritritol, xilitol, sorbitol, dan tagatosa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok dengan konsumsi pemanis tertinggi mengalami penurunan kemampuan kognitif 62 persen lebih cepat dibandingkan kelompok dengan konsumsi terendah. Perbedaan tersebut diperkirakan setara dengan tambahan 1,6 tahun proses penuaan otak.
Dampak yang diamati terutama berkaitan dengan kemampuan mengingat informasi, mengolah kata, serta kecepatan berpikir. Hubungan tersebut juga terlihat lebih kuat pada peserta berusia di bawah 60 tahun.
Menariknya, tidak semua jenis pemanis menunjukkan hubungan yang sama. Dalam penelitian tersebut, tagatosa tidak ditemukan memiliki hubungan dengan penurunan kemampuan kognitif.
Pemanis rendah kalori sendiri sering digunakan sebagai alternatif gula, terutama bagi orang yang ingin mengurangi asupan kalori. Akan tetapi, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kandungan rendah kalori tidak selalu berarti suatu produk bebas dari kemungkinan dampak kesehatan jangka panjang.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa temuan tersebut belum membuktikan pemanis buatan secara langsung menyebabkan penurunan daya ingat. Penelitian ini bersifat observasional sehingga masih diperlukan penelitian lanjutan untuk memastikan hubungan tersebut.
Temuan ini menjadi pengingat bahwa memperhatikan pola konsumsi makanan dan minuman tidak hanya penting untuk menjaga berat badan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan otak dalam jangka panjang.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:












