Senin 02-11-2026,23:04 WIB
Reporter:
MG – Yuha Ilaiya Nafiah|
Editor:
Jefri Ardi

Foto: Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan. -https://pin.it/6kf1lDMEa-Pinterest
RADARTVNEWS.COM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Papua Selatan masih menjadi perhatian serius Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Meski luas area yang terbakar menunjukkan penurunan, upaya pemadaman terus diperkuat karena masih terdapat ratusan titik panas dan titik api yang belum berhasil dipadamkan.
Kebakaran di Papua Selatan tercatat mencapai 695 hektare dengan total 379 titik panas. Sementara itu, sebanyak 171 titik api masih terpantau dan sekitar 253 hektare area kebakaran dilaporkan belum padam.
“Berdasarkan data BNPB per 1 November 2026 pukul 17.00 WIB, Papua Selatan masih menjadi salah satu wilayah prioritas penanganan karhutla,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam keterangan, Senin (2/11/2026).
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan Papua Selatan masih menjadi salah satu wilayah prioritas dalam penanganan karhutla.
Hal tersebut disampaikannya melalui keterangan resmi pada Senin, (2/11/2026). Menurutnya, meskipun perkembangan data menunjukkan penurunan, penanganan di lapangan tetap membutuhkan penguatan.
Jika dibandingkan dengan kondisi pada 31 Oktober 2026, jumlah titik panas mengalami penurunan cukup signifikan. Sebelumnya, tercatat sebanyak 943 titik panas dan kini berkurang menjadi 379 titik.
Begitu pula dengan jumlah titik api yang turun dari 263 menjadi 171 titik. Luas area terbakar juga mengalami penyusutan dari 1.742 hektare menjadi 695 hektare. Adapun area yang belum padam berkurang dari 577 hektare menjadi 253 hektare.
BACA JUGA:Beberapa Titik Karhutla Mengepung Tanah Papua
Berton menyebut perkembangan tersebut merupakan indikasi positif dari upaya penanganan yang telah dilakukan. Namun, angka luas kebakaran masih perlu diverifikasi melalui pemantauan dan pemeriksaan langsung di lapangan.
Ia juga mengingatkan bahwa data luas area terbakar berasal dari pemantauan geospasial sehingga masih dapat berubah mengikuti pembaruan data dan hasil pemetaan.
Sebelumnya, Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi bersama Kepala BMKG Teuku Faisal telah melakukan pemantauan udara pada 31 Oktober 2026. Dari hasil pemantauan tersebut, kepulan asap dan sejumlah titik api masih terlihat di Kabupaten Merauke.
Untuk mempercepat penanganan, BNPB terus memperkuat pemantauan menggunakan teknologi satelit dan drone. Selain itu, dilakukan verifikasi titik api serta koordinasi dengan BPBD, pemerintah daerah, TNI-Polri, Manggala Agni, dan berbagai unsur terkait.
BNPB juga memberikan perhatian terhadap aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar. Pengawasan terhadap kegiatan tersebut dinilai penting untuk mencegah munculnya titik api baru yang dapat memperluas kebakaran.
Di sisi lain, BNPB bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) turut melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk meningkatkan peluang turunnya hujan di wilayah terdampak.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:












