Sabtu 24-10-2026,20:21 WIB
Reporter:
MG – Puja Yana|
Editor:
Jefri Ardi

Gejala defisiensi zat besi, dan pentingnya pemeriksaan feritin.-ilustrasi-Magnific
RADARTVNEWS.COM – Kelelahan berkepanjangan, tubuh terasa lemas, hingga sulit berkonsentrasi kerap dianggap sebagai dampak kurang tidur atau stres. Namun, kondisi tersebut juga dapat menjadi tanda defisiensi zat besi, bahkan ketika kadar hemoglobin masih berada dalam rentang normal.
Menurut informasi yang mengacu pada American Society of Hematology (ASH), kekurangan zat besi merupakan salah satu masalah kekurangan mikronutrien yang umum terjadi. Kondisi ini dapat luput terdeteksi apabila pemeriksaan hanya berfokus pada jumlah sel darah merah atau kadar hemoglobin tanpa mengevaluasi cadangan zat besi dalam tubuh.
Kekurangan Zat Besi Tidak Selalu Berarti Anemia
Defisiensi zat besi dan anemia merupakan dua kondisi yang berbeda, meskipun saling berkaitan. Defisiensi zat besi terjadi ketika cadangan zat besi tubuh menurun, sedangkan anemia terjadi ketika kadar hemoglobin atau jumlah sel darah merah berada di bawah batas normal.
Pada kondisi kekurangan zat besi tanpa anemia, seseorang masih dapat memiliki kadar hemoglobin normal, tetapi sudah mengalami sejumlah keluhan. Gejalanya antara lain kelelahan, kesulitan berkonsentrasi atau brain fog, sindrom kaki gelisah (restless leg syndrome), serta keinginan mengunyah es batu atau benda yang bukan makanan, yang dikenal sebagai pica.
Sementara itu, anemia dapat menimbulkan gejala tambahan, seperti pusing, sesak napas, kulit tampak pucat, dan jantung berdebar. Karena gejalanya bisa tumpang tindih dengan kondisi lain, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebab pastinya.
Pemeriksaan Feritin Membantu Mendeteksi Kekurangan Zat Besi
Untuk mendeteksi defisiensi zat besi, pemeriksaan feritin melalui tes darah menjadi salah satu langkah penting. Feritin merupakan protein yang menyimpan zat besi sehingga kadarnya dapat membantu menggambarkan cadangan zat besi dalam tubuh.
Dalam informasi panduan diagnostik yang dicantumkan pada sumber, ambang feritin yang disebutkan berbeda menurut kelompok pasien, yaitu minimal 20 ng/mL untuk anak-anak dan 30 ng/mL untuk orang dewasa secara umum. Sementara itu, angka 50 ng/mL disebut sebagai acuan untuk kelompok berisiko tinggi, seperti perempuan dengan menstruasi berat, orang yang menjalani pola makan vegan, serta pengguna antasida.
Bagi pasien dengan peradangan kronis, sumber tersebut menyebutkan ambang hingga 100 ng/mL dan perlunya mempertimbangkan pemeriksaan saturasi transferin. Namun, angka tersebut tidak dapat digunakan sebagai patokan diagnosis mandiri karena interpretasi hasil pemeriksaan perlu mempertimbangkan kondisi kesehatan, gejala, dan hasil laboratorium lainnya.
Jangan Mengandalkan Tren Media Sosial
Pengenalan kekurangan zat besi melalui tren media sosial, seperti istilah ferritin face, juga perlu disikapi secara hati-hati. Klaim bahwa lingkaran hitam di bawah mata atau kulit pucat dapat memastikan rendahnya kadar feritin hanya melalui foto tidak dapat menggantikan pemeriksaan medis.
Gejala fisik semacam itu dapat disebabkan oleh berbagai kondisi sehingga tidak cukup untuk memastikan seseorang mengalami defisiensi zat besi. Pemeriksaan darah dan konsultasi dengan tenaga kesehatan tetap diperlukan untuk mengetahui penyebab keluhan.
Jika kelelahan berlangsung terus-menerus, sulit berkonsentrasi, atau disertai gejala lain yang mengganggu aktivitas, masyarakat disarankan memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Dengan pemeriksaan yang tepat, kekurangan zat besi dapat diidentifikasi dan ditangani sesuai penyebabnya.(*)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
mediaindonesia.com












