Scroll untuk membaca artikel
BandarlampungKesehatan

Akademisi Desak BPOM Proaktif Cegah PCC

2
×

Akademisi Desak BPOM Proaktif Cegah PCC

Share this article
Akademisi desak BPOM cegah PCC

radartvnew.com- Berjatuhannya korban penyalahgunaan obat paracetamol caffein corisoprodol (PCC) di Kendari Sulawesi Tenggara mengundang perhatian akademisi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung (UNILA),  DR. dr. Asep Sukohar.

Kepada Radar Lampung TV (16-9-2017), Asep mengatakan bahwa obat tersebut harusnya tidak beredar bebas, sebab memiliki kandungan senyawa carisoprodol yang fungsinya untuk mengatasi nyeri dan ketegangan otot.

Pria yang juga menjabat sebagai wakil dekan 1 bidang akademik dan kerjasama fakultas kedokteran (UNILA) menjelaskan, bahwa carisoprodol tergolong muscle relaxants atau pelemas otot.

Obat ini bekerja pada jaringan saraf dan otak yang mampu merilekskan otot. Umumnya carisoprodol digunakan tenaga medis untuk operasi  karena dapat mengurangi rasa nyeri.

Konsumsi obat PCC akan membuat otot yang tadinya berkontraksi atau tegang menjadi lemas. Hal inilah yang membuat penggunanya merasa rileks, jika diminum dalam dosis tinggi  penggunanya akan merasakan sensasi tubuh terasa ringan seperti terbang atau yang biasa disebut nge-fly.

Sama seperti obat pereda nyeri lainnya , mengkonsumsi obat PCC dalam jumlah besar akan menimbulkan efek samping yang cukup serius, menurutnya efek dari penggunaan obat PCC ini beragam sesuai dengan kemampuan tubuh seseorang.

Bahkan yang lebih parah, pengguna obat tersebut bisa mengalami kejang otot yang berujung pada kematian. Ssep berharap pemerintah maupun instansi terkait seperti Badan Pengelola Obat dan Makanan (BPOM) segera mengambil tindakan untuk segera menarik obat-obatan tersebut dari peredaran.

Diketahui sebelumnya, sejumlah remaja di Kendari Sulawesi Tenggara bertingkah laku seperti zombie atau mayat hidup usai mengonsumsi pil yang belakangan diketahui bernama pil PCC. Bahkan umumnya korban masih usia pelajar.

Korban mengalami gangguan mental, kehilangan akal sehat dan berusaha melukai diri sendiri atau disebut mereka mumbul. Data terbaru ada 68 orang di kendari yang mengonsumsi pil tersebut bahkan dua diantaranya meninggal dunia.(liz/sep)