Scroll untuk membaca artikel
Peristiwa

Disangka Big Fish, Ternyata Nelayan Temukan Baling Pesawat PD II Hingga Merugi Jutaan Rupiah

4
×

Disangka Big Fish, Ternyata Nelayan Temukan Baling Pesawat PD II Hingga Merugi Jutaan Rupiah

Share this article
Penemuan Baling Pesawat yang diduga mesin Pesawat Perang Dunia II

RADARTVNEWS.COMSeperti biasa Nafik, nelayan Dusun Karang Tumpuk, Desa Campurejo, Panceng Gresik Jawa Timur turun melaut untuk mencari tangkapan Ikan.

Saat sedang menebar jaring ikan dan hendak mengangkatnya, nafik terkejut bukan main lantaran jaringnya berat saat dibawa ke daratan.

Disangka mendapat tangkapan besar saat melaut, jaringnya justru mengangkut baling-baling pesawat dan membuatnya merugi.

Nafik, yang menemukan baling-baling mesin pesawat itu, mengaku mengalami kerugian hingga Rp 7 juta.

Itu setelah jaring miliknya rusak usai tersangkut dan membawa bangkai mesin pesawat itu ke daratan dan juga kerugian pada bahan bakar.

“Sial pastinya soalnya jaring yang saya gunakan rusak pak. Belum lagi solar yang digunakan untuk melaut, ya total kerugian kira-kira Rp 7 jutalah,” ungkap Nafik, Ketua Rukun Nelayan Karang Tumpuk, Campurejo, Gresik, dikutip Selasa (25/7/2023).

Nafik menceritakan saat itu ia melaut untuk mencari ikan di sekitar perairan Umpal Hijau. Namun, tiba-tiba jaring ikannya tersangkut baling kapal yang ia kira mendapatkan ikan besar.

“Saya kira dapat ikan besar atau tangkapannya banyak. Makanya kita minta bantuan nelayan lainnya untuk menarik ke daratan,” kata Nafik.

Saat dibawa ke pinggir tempat pelelangan ikan (TPI) Dusun Karang Tumpuk, ternyata yang berada di jaringnya adalah baling-baling mesin pesawat kuno. Dibantu warga lainnya, Nafiik pun mengangkat baling pesawat tersebut ke daratan.

“Sampai di darat langsung saya cek, ternyata banyak jaring yang rusak dan sobek. Yowes mau gimana lagi,” ungkap Nafik pasrah.

Nafik berharap dari penemuan bangkai baling pesawat tersebut ia mendapat kompensasi dari pihak terkait apabila baling-baling pesawat tersebut akan dibawa untuk dilakukan pemeriksaan. Ia hanya meminta kompensasi atas kerusakan tersebut dan bahan bakar solar yang digunakan untuk melaut.

“Ya kalau ada yang mau ambil silahkan nggak apa-apa, tapi ya kasih kita kompensasi, karena selain bahan bakar, ada jaring saya yang rusak, gak dapat ikan lagi,” tuturnya.

Amudi, Kepala Desa Campurejo yang meninjau lokasi penemuan baling pesawat oelh warganya mengaku bila ada kemungkinan bila baling pesawat yang ditemukan adalah peninggalan pesawat perang dunia ke II, ini lantaran sebelum pernah ditemukan bangkai utuh pesawat perang dunia II tanpa baling pesawat.

“Ada kemungkinan ini baling pesawat yang jatih saat perang dunia ke II, nanti kita koordinasikan ke pihak terkait,” ungkap Amudi

Dirinya tak membantah akibat hal tersebut warganya merugi karena jaring nelayannya rusak akibat tersangkut baling pesawat.

“Ini warga saya melaut harapannya dapat ikan, ini malah dapat baling pesawat,” ujarnya

Amudi mengatakan dirinya akan berkoordinasi dengan pihak terkait terkait penemuan baling pesawat yang diduga baling pesawat perang dunia II, termasuk kompensi bagi nelayanan yang menemukan sebagai pengganti kerugian jaring yang rusak.

“Ya nanti kita koordinasikan lagi dengan pihak terkait mudah-mudahan ada kompensasi atas kerugian jaring yang rusak” pungkasnya

Terpisah, Komunitas Roode Brug Soerabaia Ady Setiawan menemukan dugaan baling pesawat itu barang langka setelah menelusuri keterangan yang ditemukan di bangkai mesin pesawat tersebut. Setelah melakukan riset secara online, Ady menemukan kemiripan bangkai pesawat itu dengan Dornier DO 24.

Sejumlah pihak yang menangani temuan bangkai pesawat diduga dari era Perang Dunia ke-II itu menemukan keterangan tertulis di bagian mesin. Tertulis di mesin itu, secara berurutan dari atas ke bawah, Werk Nr: 13025, Motor Type: DO 24, Werkstoff: V 2 AF, Theodor Klatte, Bremen-Hutching.

Berbekal informasi di mesin pesawat itu Ady melacak kemungkinan jenis pesawat tersebut dari situs web Aviaton Safety Network. Dia temukan Dornier DO 24 memang jatuh di perairan Madura.

Dalam catatan penerbangan di situs tersebut, pesawat itu berangkat dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan menuju Surabaya, Jawa Timur pada 11 Februari 1942 malam sekitar pukul 23.30 WIB. Namun, sebelum sampai di Surabaya pesawat itu terjatuh di perairan dekat Pulau Madura. (*)