Rabu 28-10-2026,20:10 WIB
Reporter:
MG – Annisa Nayla Meriza|
Editor:
Jefri Ardi

Guru Besar UGM Prof Uceng kritik oligarki di Yogyakarta–instagram @kjogjadotcom
RADARTVNEWS.COM – Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Gadjah Mada (UGM), Zainal Arifin Mochtar atau yang akrab disapa Prof Uceng, melontarkan kritik keras terhadap dominasi oligarki dan ketimpangan di Indonesia. Kritik tersebut disampaikan saat dirinya bergabung dalam aksi demonstrasi di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Rabu (28/10/2026).
Dalam orasinya, Uceng menilai persoalan yang dihadapi Indonesia bukan hanya berkaitan dengan kebijakan pemerintah, tetapi juga kepentingan politik dan kelompok elite yang dinilai lebih diutamakan dibandingkan kepentingan masyarakat.
Ia bahkan mengibaratkan kondisi saat ini sebagai bentuk penjajahan dengan wajah berbeda. Menurutnya, kepentingan politik, oligarki, dan ambisi memenangkan pemilu telah menjadi persoalan yang menghambat pemenuhan kepentingan rakyat.
“Kenapa? Karena penjajahannya berbeda. Kita dijajah oleh kepentingan politik, kita dijajah oleh para oligarki, kita dijajah oleh kepentingan kemenangan pemilu dibanding kepentingan rakyat,” ujar Uceng dalam orasinya.
Uceng juga menyoroti sistem ketatanegaraan yang dinilainya belum berjalan sebagaimana mestinya. Ia menilai prinsip checks and balances atau mekanisme saling mengawasi dan mengimbangi antarlembaga negara belum terlaksana secara optimal.
Menurutnya, lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif seharusnya menjalankan fungsi masing-masing sekaligus memastikan kekuasaan tidak berjalan tanpa pengawasan.
Ia turut mengkritik proses pembentukan peraturan perundang-undangan yang dinilai lebih mengakomodasi kepentingan kelompok bermodal dibandingkan kebutuhan masyarakat luas.
“Saya mengajarkan soal menyusun peraturan perundang-undangan. Tapi peraturan perundang-undangan dibikin sesuai dengan keinginan para oligarki,” tegasnya.
Selain persoalan politik dan tata kelola pemerintahan, Uceng menyinggung ketimpangan ekonomi yang masih menjadi persoalan di Indonesia. Ia menilai kesenjangan antara kelompok elite dan masyarakat menunjukkan bahwa manfaat pembangunan belum dirasakan secara merata.
Ia juga mengingatkan bahwa semangat persatuan yang digaungkan dalam Sumpah Pemuda tidak cukup hanya menjadi peringatan seremonial. Menurutnya, persatuan harus diwujudkan melalui keberanian menyuarakan kritik terhadap ketidakadilan dan kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat.
“Tidak ada gunanya kita bicara soal berbangsa satu ketika bangsa kita dipecah, lalu kemudian yang memperoleh keuntungan terbesar adalah kaum oligarki,” ujarnya.
Dalam orasinya, Uceng mengajak mahasiswa dan berbagai kelompok masyarakat untuk menyatukan langkah dalam memperjuangkan perubahan. Ia menegaskan bahwa gerakan tersebut tidak seharusnya terpecah hanya karena perbedaan organisasi, kampus, maupun latar belakang.
BACA JUGA:Oknum Polisi Halangi Kerja Jurnalis Liputan Demo Mahasiswa di Bundaran HI
“Anda bisa datang dari berbagai organisasi, Anda bisa berdatangan dari berbagai kampus, Anda bisa datang dari berbagai kelompok masyarakat, tapi tujuan kita adalah runtuhkan kekuasaan yang sombong ini,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
kjogjadotcom












