Scroll untuk membaca artikel
Lampung Selatan

El Nino Picu Ratusan Hektar Tanaman Jagung Di Lampung Gagal Panen

83
×

El Nino Picu Ratusan Hektar Tanaman Jagung Di Lampung Gagal Panen

Share this article
KERING : Tanaman jagung di Kabupaten Lampung Selatan. (Foto Mai)

KALIANDA : Dinas Pertanian Lampung Selatan dan penyuluh pertanian tidak berhasil mengedukasi dampak el nino kepada petani. Seharusnya ada early warning menghadapi el nini, yakni terkait pemilihan komoditas tanaman palawija apa saja yang disarankan.

Belum lagi memauki puncak kemarau, ratusan hektar tanaman jagung di Kecamatan Ketapan, dan Bakauheni, Kabupaten Lampung Selatan dipastikan gagal panen.

Kekeringan menyebabkan tanaman jagung gagal buah. Jikapun ada yang berbuah, maka tak sesuai ekpektasi. Buahnya kecil dan kerdil. Tanaman menjadi kerdil dan jika dibiarkan lama kelamaan maka akan kering dengan sendirinya.

Mayoritas petani hanya bisa pasrah. Mereka memutuskan untuk mencabut seluruh tanaman jagung.

”Mau diapakan lagi. Sepertinya musim hujan masih lama. Terpaksa kita cabut tanaman jagung ini,” kata Kodrat, petani di Ketapang.

Pihaknya menyatakan tidak ada woro-woro atau pengumuman terkait musim kemarau panjang dan rekomendasi tanaman apa yang tahan dengan kemarau.

”Dinas Pertaniannya tidur kali. Baik Provinsi dan Kabupaten tidak ada pemberitahuan sama sekali,” sambung petani berusia senja ini.

Petani Minta Diberi Solusi

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Saun menyatakan sejauh ini belum ada tinjauan lapangan yang dilakukan oleh penyuluh pertanian, aparat pemerintahan desa, kecamatan, Dinas Pertanian kabupaten dan Provinsi Lampung.

”Cobalah sekali-kali turun lapangan. Lihat kondisi petani, ini lagi susah semua. Tanaman gagal panen Pak,” ujar Saun.

Seharusnya kepala daerah lebih baik Bupati Lampung Selatan Nanang Ermanto dan Gubernur Lampung Arinal Djunaidi lebih responsif dan peka terhadap masyarakat terdampak el nino.

”Coba dulu carikan solusinya. Bantuan apa yang bisa mengurangi kerugian petani,” pintanya.

Setiap satu hektar lahan pertanian jagung, mulai dari penyiapan lahan, pembelian bibit, pupuk, perawatan, dan obat-obatan pertanian dipastikan mengeluarkan biaya hingga puluhan juta rupiah.

”Belum lagi tenaga petaninya, kadang memang tidak kami hitung biaya tenaga,” jelasnya.

Jika kepala daerah, dan Dinas Pertanian bergeming. Maka pihaknya sangat mengharapkan perhatian dari Presiden Joko Widodo dan Kementerian Pertanian.

”Ini bagaimana ceritanya petani Berjaya dan komoditas diasuransikan. Tolong dulu Pak Presiden dan Pak Menteri (Pertanian),” ujarnya sedih. (*)