Scroll untuk membaca artikel
Ekonomi

“Penghasilan Hilang, Saya Ngga Bisa Dagang”

5
×

“Penghasilan Hilang, Saya Ngga Bisa Dagang”

Share this article
Harga minyak goreng di sejumlah pasar tradisonal  di Bandarlampung, masih dijual 20 ribu rupiah per liter. Di Pasar Tamin, pedagang enggan menurunkan harga menjadi Rp 14 ribu rupiah per liter  karena mereka membeli stok lama dengan modal Rp 19 ribu per liter.

BANDARLAMPUNG – Kelangkaan minyak goreng menjadi keluhan berbagai pihak, salah satunya pelaku UMKM.

Sejumlah pedagang menghentikan usaha akibat tidak mendapat stok minyak lagi dan sibuk mencari gerai minyak hingga ke puluhan gerai minyak goreng.

Suwarni (68) pedagang kue di Pasar Tamin mengaku sempat tak berjualan selama tiga hari karena kehabisan stok minyak dan tidak mendapat penghasilan.

“Tiga harian enggak dagang, jadi enggak ada penghasilan.” Jelasnya.

Hal yang sama dirasakan Sriyani (54) pedagang nasi sayur di Pasar Tamin. Ia tidak berdagang selama 3 hari lantaran mencari minyak di minimarket dan gerai minyak lainya hingga ke Desa Kurungan Nyawa,Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, namun sulit ditemukan.

“Rumah saya kan di Negeri Sakti, saya naik motor dari Desa Bernung sampai Desa kurungan nyawa nggak dapat minyak. Kemarin sehari terus kemarin nya lagi dua hari, jadi tiga hari enggak dagang. Besok aja saya enggak tahu karena belum punya stok minyak.” ujarnya

BACA JUGA: Negeri Kaya Sawit, Minyak Goreng Sulit

Sementara Cakra penjual gorengan Jalan Sam Ratulangi, Tanjungkarang menuturkan, demi memenuhi kebutuhan anak dan istri cakra mengurungkan niatnya untuk tidak berjualan akibat minyak goreng langka dan mahal.

“Kalau enggak dagang bingung nanti kebutuhan anak sekolahnya bagaimana karena tidak ada pemasukan, sedangkan kebutuhan pun setiap hari harus,” katanya.

Para pedagang berharap kebijakan minyak goreng murah tak merugikan berbagai pihak terutama pedagang. Dan menginginkan minyak goreng dapat kembali dengan mudah dicari seperti dulu. (cr1/cr6/rie)