Scroll untuk membaca artikel
Tanggamus

Dukun Berkedok Guru Ngaji: Bisa Pasang Susuk Ini Kebal Hukum

20
×

Dukun Berkedok Guru Ngaji: Bisa Pasang Susuk Ini Kebal Hukum

Share this article

"Cerita semua koban sama, anak diperdaya alasan membuka aura dan digenggam kuat jadi tidak bisa melawan," tutur salah satu orang tua korban.

BAHAYA SYIRIK : Banyak dukun berkedok mampu menggandakan uang. (foto Ilustrasi)

PUGUNG : Sejumlah orang tua korban diduga pelecehan seksual di Pekon Sukamulya, Kecamatan Pugung, Kabupaten Tanggamus resah.

Menyusul menyeruaknya informasi praktik tidak terpuji dilakukan seorang dukun berkedok guru mengaji di pekon setempat.

Berdalih bisa memasang susuk ke bagian tubuh anak muridnya, RM sang dukun beraksi melakukan pelecehan.

Susuk merupakan sebuah benda kecil yang sudah dijampi-jampi. Lantas dengan keahlian khusus atau bantuan jin, diselipkan di bawah kulit melalui ritual tertentu.

Bentuknya bisa bubuk atau jarum emas, batu permata, atau berlian dan sebagainya

Menariknya, meski semua orang geram. Namun, perbuatan RM ini tak tersentuh hukum. Sepertinya orang kebal hukum. Dia tak tersentuh pidana oleh Polsek Pugung, Polres Tanggamus dan Polda Lampung.

Kasus ini sebenarnya sudah diketahui Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TPA) Kabupaten Tanggamus. Bahka sudah mengumpulkan keterangan dengan cara mengunjungi para korban.

Pihak P2TPA tak bisa berbuat banyak, karena adanya surat perjanjian damai yang dibuat tingkat dusun. Diduga, aparat pamong tak kuasa atas praktik ini.

Masyarakat meminta agar kasus ini dibuka lebar dan aparat leluasa bertindak.

Sebaliknya Kepala Pekon Sukamulya Suherman seperti memberi benteng atas dugaan kasus ini.

“Takutnya jadi bumerang bagi masyarakat jika saya memberikan pendapat,” kata Suherman tanpa mau menjelaskan maksud bumerang itu.

Diduga tindak asusila telah berjalan selama bertahun-tahun bahkan terdapat beberapa korban yang telah menikah dan memiliki anak.

“Cerita semua koban sama, anak diperdaya alasan membuka aura dan digenggam kuat jadi tidak bisa melawan,” tutur salah satu orang tua korban. (*)