Scroll untuk membaca artikel
Pendidikan

Radar TV dan SMKN 1 Kotaagug Barat Sinergi Penyelerasan Kurikulum

11
×

Radar TV dan SMKN 1 Kotaagug Barat Sinergi Penyelerasan Kurikulum

Share this article
SINERGI - Radar Lampung TV bersama SMKN 1 Kotaagung Barat melakukan penyelaran kurikulum. (Foto Ist)

RADARTVNEWS.COM Sebagai pihak dunia industry, Radar Lampung TV terus mendapatkan kepercayaan dalam kerja sama penyelarasan kurikulum bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan. Kali ini, Radar TV berkolaborasi bersama SMK Negeri 1 Kotaagung Barat, Kabupaten Tanggamus merancang kurikulum bagi siswa jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV d/h Multimedia) dan Teknik Audio Video (TAV).

Sebelumnya, Radar TV juga terlibat dalam program penyelarasan kurikulum,  magang guru bertsertifikat bersama SMKN 9 Bandarlampung, SMKN 8 Bandarlampung, SMKN1 Kotabumi, SMK Muhammadiyah Kotaagung,  dan sejumlah sekolah lainya. Termasuk menjadi penguji eksternal dalam uji kompetensi siswa SMK.

Penyelarasan ini membedah dan sinkronisasi kurikulum sekolah agar relevan dengan dunia usaha dunia industri (DUDI). Penyelarasan kurikulum berlandasakan dengan Kurikulum Merdeka Belajar. ”Kami memandang kurikulum sekolah belum sepenuhnya sinkron dengan kebutuhan dunia usaha,” ujar Kiki, Kepala Jurusan DKV SMKN 1 Kobar.

General Manager Radar TV Hendarto Setiawan yang menjadi pemateri tunggal mendukung program penyelarasan kurikulum antara sekolah dan dunia kerja. Sebagai stasiun televisi lokal di Lampung, setiap tahun selalu menerima ratusan siswa PKL dan mahasiswa magang dari pelbagai jurusan.

Secara keahlian, mayoritas siswa PKL ”tidak” memiliki bekal dasar pelajaran kejuruan di sekolah. Padahal jika dilihat dari kurikulumnya sudah sangat baik secara teori namun belum optimal dalam praktiknya.

”Ini kita bicara keahilian personal. Jangan sampai melepas siswa PKL tanpa dasar keahlian kejuruan yang sudah diajarkan di kelas X dan XI,” bukanya.

Belum lagi bicara etika dan budaya kerja. Secara dini, sekolah harus jujur membuka diri mengajak komunikasi pihak DUDI. Sebagai remaja yang sedang tumbuh, siswa harus mulai ditanamkan budaya kerja.

Program penyelarasan kurikulum ini berangkat pula dari tingkat kepuasaan sekolah atas penyerapan lulusan. SMK didesain agar lulusan mampu memiliki skill keahlian khusus dan diterima bekerja sesuai dengan jurusan dan atau wirausaha sesuai dengan kemampuan.

Bukan untuk melanjutkan kuliah yang beda jurusan atau bekerja tidak sesuai dengan jurusan. ”Kita harus legawa mengakui tingkat kepuasan sekolah atas berapa besar siswa terserap bekerja dan berwirausaha,” bebernya.

Terkait dengan keahilian bidang DKV, semakin majunya industri teknologi (IT) membuat bidang ini memiliki masa depan cerah. Sudah sepatutnya, baik kurikulum dan kompetensi guru terus ditingkatkan sesuai perkembangan.

”Siapa yang saat ini tidak punya gadget. Anak anak jangan sampai hanya menjadi penikmat saja, main game yang tidak jelas. Melalui ponsel semua ada aplikasi yang mudah dipelajari dan bisa dijadikan wirausaha bidang DKV,” paparnya. (*)