Kamis 05-11-2026,08:50 WIB
Reporter:
MG – Sarah Wafi Taqiya|
Editor:
Jefri Ardi

Potret Singa-pinterest-
RADARTVNEWS.COM – Singa dikenal sebagai predator yang hidup secara berkelompok dengan sistem sosial yang memiliki pembagian peran antara jantan dan betina. Namun, di balik kehidupan tersebut, terdapat perilaku yang cukup mengejutkan, yakni singa jantan yang terkadang menyerang hingga membunuh anak singa. Fenomena ini dikenal dengan istilah *infanticide* atau pembunuhan terhadap anak oleh individu dari spesies yang sama.
Perilaku tersebut umumnya terjadi ketika seekor singa jantan berhasil mengambil alih kekuasaan dalam suatu kelompok atau *pride*. Pejantan baru biasanya akan berhadapan dengan anak-anak yang merupakan keturunan penguasa sebelumnya. Dalam kondisi tertentu, mereka dapat membunuh anak-anak tersebut sebagai bagian dari strategi reproduksi.
Dikutip dari pemberitaan SINDOnews, perilaku membunuh keturunan pejantan lain berkaitan dengan persaingan reproduksi di dunia satwa. Ketika anak singa masih menyusu, induknya cenderung belum kembali ke masa reproduksi. Dengan menyingkirkan keturunan pejantan sebelumnya, singa jantan pendatang dapat mempercepat kesiapan betina untuk kawin kembali dan menghasilkan keturunan darinya.
Selain itu, pergantian penguasa dalam kelompok singa merupakan bagian dari dinamika sosial di habitat alami. Pejantan harus mempertahankan wilayah dan posisinya dari ancaman pesaing. Ketika kekuasaan berpindah tangan, anak-anak dari pemimpin terdahulu menjadi salah satu pihak yang paling rentan terhadap serangan.
Tetapi, tidak semua singa jantan menunjukkan perilaku tersebut. Pejantan yang telah menjadi bagian dari kelompok dan memiliki keturunan sendiri dapat berperan dalam menjaga wilayah serta melindungi anak-anak dari ancaman luar. Hal ini memperlihatkan bahwa perilaku singa dipengaruhi oleh hubungan sosial, kondisi kelompok, serta kepentingan reproduksi.
Disisi lain, singa betina memiliki peran utama dalam merawat keturunannya. Mereka bertugas menyusui, menjaga, dan mengasuh anak hingga mampu bertahan hidup secara mandiri. Dalam beberapa kondisi, induk betina juga dapat menunjukkan perlawanan ketika anak-anaknya berada dalam bahaya.
Fenomena infanticid menunjukkan bahwa kehidupan satwa liar tidak hanya berkaitan dengan naluri berburu dan mempertahankan wilayah, tetapi juga melibatkan persaingan untuk meneruskan keturunan. Perilaku tersebut menjadi salah satu mekanisme biologis yang terjadi dalam dinamika populasi singa, meskipun dampaknya dapat mengancam kelangsungan hidup anak-anak yang baru dilahirkan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
kompas.com












