Scroll untuk membaca artikel
Utama

Mendagri Minta Warga Tinggalkan Makan Nasi, Tapi Harga Pangan Pengganti Lebih Mahal

675
×

Mendagri Minta Warga Tinggalkan Makan Nasi, Tapi Harga Pangan Pengganti Lebih Mahal

Share this article
singkong pangan alternatif
Pemerintah Genjot Petani Singkong, Wujudkan Hasilkan Singkong Dengan Kualitas Baik

RADARTV : Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengeluarkan kebijakan kontroversial terkait solusi mengatasi harga beras yang terus meroket. Mendagri menyarankan masyarakat Indonesia mengonsumsi makanan pokok selain nasi seperti ubi, sorgum, sukun, jagung dan sejenisnya sebagai bentuk diverifikasi pangan.

“Tolong ditekankan betul, diversifikasi pangan. Jadi tidak hanya mengandalkan beras sebagai makanan pokok, tapi juga karbohidrat-karbohidrat lain,” pesan Tito di Jakarta belum lama ini.

Mantan Kapolri ini memastikan sejumlah jenis beras menggandung gula, sebagai sumber penyakit diabetes melitus. Mengacu tugas dan  pengalaman sebagai polisi di tempatkan di sejumlah daerah, banyak sumber karbohidrat lain yang bisa menggantikan beras.

”Ada papeda, sorgum, sagu, jagung, talas, yam, ubi jalar, hingga sukun. Semuanya bisa menjadi pengganti beras dan sehat,” jelasnya.

Pihaknya mengajak bangsa ini mengkampanyekan gerakan makanan nonberas. “Jangan minder dan rendah untuk makan makanan itu. Saya saja makan-makanan itu tiap hari, yakni keladi, kemudian sukun, jagung, itu semua makan makanan sehat,” sambungnya.

Dalam satu pekan terakhir, harga beras terus mengalami kenaikan. Bahkan, untuk harga beras kualitas bawah I menjadi Rp 13.350 per kilogram. Lalu kualitas medium menyetuh harga Rp15 ribu dan kualitas premium sebesar Rp17.500

Untuk mendukung kampanye ini, pemerintah sudah menyiapkan slogan nasional, ‘Kenyang Tidak Harus Nasi’.  Sebelumnya, Menteri Pertanian SYL (Syahrul Yasin Limpo) juga menyarankan agar masyarakat mengganti makanan pokok selain nasi.

Harga Pangan Non Beras Lebih Mahal

Menariknya sejumlah solusi yang ditawarkan terkesan asal keluar saja. Tidak ada study comparative terkait harga antar komoditas. Padahal jika permasalahanya harga beras mahal, maka harga pangan non beras haruslah lebih murah. Tentunya gerakan atau kampanye ini menjadi bias, karena tak mampu menjadi solusi konkret.

Di pasar tradisional di Bandarlampung, harga ubi jalar atau mantang dengan kualitas biasa dalam kondisi normal dijual mulai Rp10 ribu perkilogram dan harga di marketplace mulai Rp12 ribu.

Kemudian harga sorgum di supermarket dan marketplace sama mahalnya dijual Rp40 ribu perkilogram. Untuk harga sukun juga relatif mahal mulai Rp15 ribu di pasar tradisional dan Rp22 ribu di market place. Bagaimana dengan harga jagung. Dalam kondisi musim kemarau panjang ini, banyak kebun jagung gagal panen. Akibatnya harga jagung konsumsi dijual Rp 4 – 5 ribu perbonggol.

”Berlaku hukum pasar toh. Di pasar tradisional, jika permintaan tinggi dan stok tipis maka harga otomatis naik. Begitu juga di marketplace yang belum dimasukan komponen ongkos kirim atau ongkir,” jelas Wawan, paklar ekonomi mikro di Pasar Smep, Bandarlampung. (*)