Rabu 28-10-2026,13:21 WIB
Reporter:
MG – Kathina Octavia|
Editor:
Jefri Ardi

Cacing Kayu-Atlas Obscura-Pinterest
RADARTVNEWS.COM — Bentuknya panjang, lunak, dan sekilas begitu mirip cacing hingga membuat banyak orang keliru mengenalinya. Namun, tembiluk menyimpan fakta yang jauh berbeda dari penampilannya.
Hewan yang dikenal sebagai “cacing kayu” tersebut ternyata bukan cacing. Tembiluk merupakan moluska bivalvia, kelompok hewan yang masih berkerabat dengan kerang. Salah satu jenis yang dikenal di Indonesia memiliki nama ilmiah Bactronophorus thoracites dan termasuk famili Teredinidae atau kelompok shipworm.
Fakta ini menjadi menarik karena kerang selama ini lebih identik dengan cangkang keras dan bentuk tubuh yang pendek. Tembiluk justru memiliki tubuh memanjang seperti cacing, sementara bagian cangkangnya berukuran kecil dan berada di bagian depan tubuh sehingga nyaris tidak terlihat seperti kerang pada umumnya.
Bukan Sekadar “Cacing” di Dalam Kayu
Keunikan tembiluk tidak berhenti pada bentuk tubuhnya.
Hewan ini justru menghabiskan sebagian besar hidupnya di dalam kayu yang berada di lingkungan perairan. Batang atau akar mangrove yang telah mati dan lapuk dapat menjadi tempat hidupnya.
Tembiluk membuat liang pada kayu dan memanfaatkannya sebagai tempat tinggal sekaligus sumber makanan. Kemampuan inilah yang membuat kelompok tersebut dikenal secara internasional sebagai wood-boring shipworm atau kerang penggerek kayu.
Dari luar, kayu yang dihuni tembiluk bahkan dapat terlihat seperti batang biasa. Hewan tersebut baru terlihat ketika kayu dibelah dan bagian dalamnya ditemukan telah memiliki lubang-lubang tempat tembiluk hidup.
Justru Membantu Mengurai Kayu Mati
Kemampuan menggerek kayu mungkin membuat tembiluk terdengar seperti hewan perusak. Dalam konteks tertentu, kelompok shipworm memang dapat merusak struktur kayu yang berada di perairan, termasuk kapal, tiang, maupun dermaga.
Namun, di alam, perilaku tersebut memiliki fungsi yang berbeda.
Tembiluk membantu memecah dan menguraikan kayu mati di kawasan pesisir. Proses ini ikut mendukung siklus nutrisi di ekosistem mangrove dan membantu mengembalikan material organik ke lingkungan.
Artinya, hewan yang mungkin dianggap menjijikkan karena bentuknya justru menjadi bagian dari proses alami yang berlangsung di kawasan mangrove.
Dari Kayu Lapuk hingga Menjadi Pangan
Di sejumlah wilayah pesisir Indonesia, tembiluk bukan hewan yang sekadar ditemukan di alam. Masyarakat lokal telah mengenalnya sebagai bahan pangan tradisional.
Kalimantan Utara menjadi salah satu wilayah yang memiliki tradisi konsumsi tembiluk. Masyarakat Tidung dan Belusu mengenal hewan ini sebagai bagian dari pangan lokal yang diwariskan dalam kehidupan masyarakat pesisir. (RRI.co.id)
Cara pengolahannya pun beragam. Tembiluk dapat diolah menjadi hidangan dengan tambahan bumbu sederhana seperti cabai, garam, dan perasan jeruk. Di sejumlah daerah, hewan ini juga dikenal dengan sebutan lain, termasuk tambelo atau temilok.
Inilah kontras terbesar dari tembiluk: hewan yang bagi sebagian orang terlihat seperti cacing ternyata merupakan kerabat kerang, hidup di dalam kayu, berperan dalam ekosistem, sekaligus menjadi bagian dari tradisi pangan masyarakat pesisir.
BACA JUGA:Tak Hanya Perawatan dari Luar, Konsumsi Makanan Sehat Bantu Menjaga Kesehatan Kulit
Mengapa Fakta Ini Jarang Diketahui?
Salah satu penyebabnya adalah bentuk tubuh tembiluk yang benar-benar berbeda dari gambaran umum tentang kerang.
Pada kerang yang biasa ditemukan di pasar, cangkang keras menjadi bagian tubuh yang paling mudah dikenali. Pada tembiluk, justru bagian tubuh lunaknya yang memanjang menjadi ciri paling dominan.
Karena itu, penyebutan “cacing” lebih mudah melekat dalam percakapan sehari-hari meskipun secara biologis hewan tersebut termasuk bivalvia.
Sejumlah pemberitaan mengenai tembiluk pada 2026 kembali membuat hewan ini menarik perhatian publik. Perbincangan tersebut sekaligus membuka fakta bahwa kekayaan hayati pesisir Indonesia tidak selalu hadir dalam bentuk satwa yang familiar bagi masyarakat luas.
Mangrove Bukan Sekadar Hutan di Pinggir Laut
Keberadaan tembiluk juga memperlihatkan betapa kompleksnya ekosistem mangrove.
Di balik batang kayu yang tampak mati, terdapat organisme yang menjalankan perannya masing-masing. Tembiluk membantu proses penguraian kayu, sementara kawasan mangrove sendiri menjadi habitat berbagai organisme pesisir lainnya.
Karena itu, mengenal tembiluk bukan semata soal menjawab pertanyaan apakah hewan ini cacing atau kerang.
Lebih jauh, tembiluk menunjukkan bahwa sesuatu yang terlihat “tidak berguna” atau bahkan menjijikkan bagi sebagian orang bisa memiliki fungsi penting dalam alam dan nilai budaya bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengannya.
Tembiluk mungkin terlihat seperti cacing. Tetapi di balik tubuh panjangnya, hewan ini menyimpan identitas sebagai moluska, kehidupan tersembunyi di dalam kayu, fungsi ekologis di pesisir, dan sejarah pangan masyarakat yang belum tentu diketahui banyak orang.
BACA JUGA:Makanan Sehat Penunjang Daya Tahan Tubuh
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
rri












