Senin 02-11-2026,18:59 WIB
Reporter:
MG – Adinda Laudya Syifa|
Editor:
Jefri Ardi

—
RADARTVNEWS.COM — Perkembangan sistem kerja fleksibel dan teknologi digital melahirkan berbagai kebiasaan baru di lingkungan profesional. Salah satunya adalah fenomena quiet vacationing, yaitu kebiasaan pekerja yang menikmati waktu liburan tanpa memberitahu perusahaan atau mengajukan cuti secara resmi.
Fenomena ini mulai ramai diperbincangkan sejak 2024 dan kembali menjadi perhatian seiring perubahan budaya kerja setelah pandemi. Quiet vacationing biasanya dilakukan oleh pekerja yang menerapkan sistem kerja jarak jauh atau remote working.
Dalam praktiknya, karyawan tetap terlihat aktif melalui aplikasi komunikasi kantor, membalas pesan, mengikuti rapat virtual, bahkan menyelesaikan pekerjaan tertentu. Namun, di balik aktivitas tersebut, mereka sebenarnya sedang berada di lokasi wisata atau menikmati waktu pribadi.
Mengapa Pekerja Memilih Quiet Vacationing?
Ada beberapa faktor yang mendorong munculnya kebiasaan tersebut. Salah satunya adalah kekhawatiran terhadap penilaian perusahaan apabila terlalu sering mengambil cuti.
Sebagian pekerja merasa bahwa mengajukan cuti dapat memberikan kesan kurang produktif atau tidak memiliki dedikasi terhadap pekerjaan. Selain itu, keinginan untuk menyimpan jatah cuti bagi keperluan lain juga menjadi alasan munculnya fenomena ini.
Berdasarkan survei ResumeBuilder pada Juli 2025 terhadap 1.200 pekerja penuh waktu di Amerika Serikat, sebanyak 41 persen responden mengaku pernah melakukan quiet vacationing sepanjang tahun tersebut. Angka ini menunjukkan bahwa praktik berlibur tanpa pemberitahuan resmi menjadi salah satu fenomena yang diperhatikan dalam perubahan budaya kerja.
Perbedaan Quiet Vacationing dan Workation
Meskipun terlihat serupa, quiet vacationing berbeda dengan workation. Workation merupakan konsep menggabungkan pekerjaan dan liburan yang umumnya dilakukan secara terbuka dengan sepengetahuan perusahaan.
Sementara itu, quiet vacationing lebih menekankan pada aktivitas berlibur tanpa pemberitahuan resmi kepada atasan. Pekerja tetap berusaha mempertahankan kesan bahwa dirinya menjalankan rutinitas pekerjaan seperti biasa.
Dampak terhadap Produktivitas dan Lingkungan Kerja
Di satu sisi, quiet vacationing memperlihatkan keinginan pekerja untuk mendapatkan fleksibilitas dan keseimbangan antara kehidupan pribadi dengan pekerjaan. Namun, kebiasaan ini juga memiliki sejumlah risiko.
Kurangnya keterbukaan dapat mengganggu koordinasi tim, menurunkan kepercayaan antara karyawan dan perusahaan, hingga menimbulkan masalah apabila pekerjaan tidak terselesaikan sesuai target.
Selain itu, pekerja yang tetap memantau pesan dan menyelesaikan tugas selama liburan berpotensi tidak mendapatkan waktu istirahat yang optimal.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
rri












