Jumat 30-10-2026,22:12 WIB
Reporter:
MG – Kathina Octavia|
Editor:
Jefri Ardi

Tangkapann Layar Kementerian Pendidikan Dasar Dan Menengah-Kementerian Pendidikan Dasar Dan Menengah-Kementerian Pendidikan Dasar Dan Menengah
JAKARTA, RADARTVNEWS.COM – Lebih dari 300 ribu perangkat Interactive Flat Panel (IFP) telah didistribusikan ke sekolah-sekolah di Indonesia. Namun, tersedianya teknologi pembelajaran tidak serta-merta menjamin peningkatan kualitas pendidikan. Kemampuan guru dalam mengoperasikan dan memanfaatkan perangkat tersebut menjadi faktor penting agar digitalisasi benar-benar berdampak di ruang kelas.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyampaikan capaian distribusi perangkat tersebut dalam pemaparan dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran di Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyebut, lebih dari 59 ribu satuan pendidikan telah direvitalisasi sepanjang 2025–2026. Selain itu, lebih dari 300 ribu perangkat IFP telah didistribusikan ke sekolah di berbagai wilayah Indonesia.
Capaian tersebut menjadi bagian dari program penguatan infrastruktur pendidikan. Akan tetapi, keberadaan perangkat digital perlu diikuti peningkatan kompetensi tenaga pengajar agar penggunaannya tidak sekadar menjadi fasilitas tambahan di dalam kelas.
Perangkat tersedia, kompetensi guru perlu diperkuat
Kemendikdasmen sebenarnya telah menyiapkan langkah untuk mendorong pemanfaatan teknologi tersebut. Salah satunya melalui Pelatihan Mandiri Pemanfaatan Papan Interaktif Digital yang diluncurkan melalui Ruang GTK pada Februari 2026.
Pelatihan ini mencakup pengenalan fitur perangkat, strategi pembelajaran interaktif, hingga praktik penerapannya di kelas. Guru dapat mengakses materi secara mandiri menggunakan akun belajar.id.
Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, menekankan bahwa papan interaktif digital harus dimanfaatkan sebagai alat pedagogis, bukan sekadar perangkat teknologi.
Sementara itu, Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, Gogot Suharwoto, menegaskan pentingnya implementasi nyata perangkat tersebut dalam kegiatan belajar mengajar.
“Perangkat sudah tersedia, konten sudah disiapkan, dan pelatihan sudah dibuka. Kini kuncinya adalah bagaimana guru memanfaatkannya untuk memperkuat kualitas pembelajaran di kelas,” ujar Gogot dalam siaran pers Kemendikdasmen, 14 Februari 2026.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa tantangan digitalisasi pendidikan tidak hanya berkaitan dengan pengadaan perangkat, tetapi juga kemampuan tenaga pengajar dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam metode pembelajaran.
BACA JUGA:600 Ton Beras SPHP Diduga Dioplos Jadi Premium, Beras Murah untuk Rakyat Dijual Lebih Mahal
Pelatihan guru menyasar lima bidang
Selain pelatihan pemanfaatan papan interaktif digital, Kemendikdasmen juga memperkuat kompetensi guru melalui lima bidang pelatihan, yakni pembelajaran mendalam, bimbingan dan konseling, koding dan kecerdasan artifisial, sains, teknologi, teknik dan matematika (STEM), serta bahasa Inggris.
Dalam siaran pers tertanggal 29 Oktober 2026, kementerian juga menyampaikan program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) bagi guru yang belum memiliki kualifikasi pendidikan D4 atau S1.
Pada tahun pertama, sebanyak 12.500 guru telah menyelesaikan program tersebut. Sementara itu, gelombang kedua disiapkan untuk lebih dari 50 ribu guru dengan dukungan beasiswa Rp3 juta per guru.
Berbagai program tersebut menjadi bagian dari penguatan infrastruktur pedagogis, yaitu peningkatan kualitas tenaga pengajar dan proses pembelajaran, selain pembangunan sarana fisik sekolah.
Digitalisasi tidak cukup hanya dengan distribusi perangkat
Distribusi perangkat teknologi dalam jumlah besar merupakan salah satu langkah pemerintah memperluas akses pembelajaran digital. Namun, pemanfaatannya tetap membutuhkan kesiapan guru, ketersediaan materi pembelajaran, serta dukungan sarana pendukung di sekolah.
Kemendikdasmen sebelumnya juga mencatat adanya upaya penyediaan akses listrik bagi 2.389 sekolah dan akses internet bagi 8.152 sekolah sepanjang program 2025–2026. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa infrastruktur pendukung masih menjadi bagian penting dalam pelaksanaan digitalisasi pendidikan.
Dengan demikian, keberhasilan program IFP tidak cukup diukur dari jumlah perangkat yang telah sampai ke sekolah. Kemampuan guru menggunakannya secara konsisten, kesesuaian materi dengan kebutuhan murid, serta penerapannya dalam kegiatan belajar menjadi hal yang perlu diperhatikan.
Pada akhirnya, teknologi pendidikan bukan tujuan akhir. Perangkat digital diharapkan membantu guru menghadirkan pembelajaran yang lebih interaktif, mendorong keterlibatan murid, dan memperkuat pemahaman materi di dalam kelas.
BACA JUGA:Kereta Jarak Jauh Bakal Masuk Stasiun Manggarai, Pembangunan Ditargetkan Rampung 2027
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
bbpmp jawa barat












