Senin 26-10-2026,21:52 WIB
Reporter:
MG – Adinda Laudya Syifa|
Editor:
Jefri Ardi

Fenomena El Nino dan La Nina di perkirakan akan terjadi di Indonesia.–
RADARTVNEWS.COM — Perubahan iklim yang dipengaruhi fenomena El Nino dan La Nina menjadi tantangan bagi ketahanan pangan Indonesia. Kedua fenomena ini dapat memengaruhi pola curah hujan, ketersediaan air, serta produktivitas pertanian yang berperan penting dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada September 2026, Indonesia sedang menghadapi fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat. Kondisi tersebut berpotensi memperpanjang musim kemarau dan menyebabkan awal musim hujan 2026/2027 mengalami keterlambatan di sebagian besar wilayah Indonesia.
El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang dapat menyebabkan berkurangnya curah hujan di Indonesia. Kondisi ini meningkatkan risiko kekeringan, terutama di wilayah pertanian yang masih bergantung pada air hujan.
Keterbatasan pasokan air dapat menghambat pertumbuhan tanaman, mengganggu jadwal tanam, hingga meningkatkan risiko gagal panen. Apabila produksi pangan menurun, ketersediaan sejumlah komoditas dapat terganggu dan berpotensi memengaruhi harga di tingkat konsumen.
BACA JUGA:dilanda Ancaman El Nino, Sebanyak 7000 Petani Malah Mendaptkan Keunutungan Panen Naik 15 Persen
Sementara itu, La Nina merupakan fenomena yang ditandai dengan penurunan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik tersebut. Fenomena ini cenderung meningkatkan curah hujan di berbagai wilayah Indonesia sehingga dapat memberikan tambahan pasokan air bagi pertanian.
Namun, curah hujan berlebihan juga memiliki risiko. Hujan dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan banjir, merusak tanaman, menghambat masa panen, serta meningkatkan risiko serangan organisme pengganggu tanaman. Dengan demikian, El Nino dan La Nina sama-sama dapat menimbulkan tantangan bagi sektor pertanian, meskipun melalui kondisi cuaca yang berbeda.
Untuk mengantisipasi dampaknya, BMKG mengimbau pemanfaatan informasi iklim dalam menentukan jadwal tanam dan pemilihan varietas tanaman yang memiliki masa panen lebih singkat. Pengelolaan sumber daya air, optimalisasi irigasi, serta pengendalian organisme pengganggu tanaman juga diperlukan untuk mengurangi risiko kerugian petani.
Kementerian Pertanian turut menyiapkan langkah mitigasi melalui pemetaan wilayah rawan kekeringan, optimalisasi sumber air, dan penguatan koordinasi untuk menjaga produksi beras nasional.
Ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada jumlah produksi, tetapi juga kemampuan menjaga distribusi dan ketersediaan bahan pangan ketika kondisi cuaca berubah. Oleh karena itu, kesiapsiagaan pemerintah, petani, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan iklim serta menjaga stabilitas pangan Indonesia.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
badan meteorologi klimatologi dan geofisika (bmkg).












